Jepang Maniac

Hai!!Para Maniac Jepang!!Di sinilah tempat untuk melakukaann apaa....aaja....asalkan itu berhubungan dengan Jepang!!!Jadi,tunggu apalagi para maniac???!!!! Buruan gabung!!O tanoshini kudasaii!!!!Ja neeee!!!!

Thursday, October 14, 2004

Kioku ( Kenangan )

Molly Halliwell
Halliwell Manor, 1329 Prescott Street, San Francisco, CA


Bagian I

Wasurete, bokutachi ni aimanutsa
Itsumo futari
Watanutsachi wa sayonara iu ga suru
Yakusoku ga wasurete
Wasurenai kudasai

( Bandara Narita, 29 Agustus 1996 )

"Ja mata, Haru-Chan," Ichi-Chan menggenggam tanganku, erat sekali. Aku tahu, dia ingin sekali menangis. Seperti aku sekarang ini. Tetapi dia adalah anak lelaki Jepang sejati, yang pantang mengeluarkan air mata di depan umum. Hingga kulihat hidungnya memerah, menahan tangisnya. Airmataku sendiri sudah berurai, tidak dapat dikendalikan lagi.

"Sayonara, Ichi-Chan," isakku mengalahkan kata-kata yang ingin kurangkai untuknya.
Mama, yang sedari tadi berdiri bersama Papa dan kedua orang tua Ichi-Chan, datang menghampiri kami. Beliau memeluk kedua bahuku dari belakang. "Sayang, kita harus naik pesawat sekarang," bisik Mama, seraya terus membelai rambutku yang lurus sebahu.

Aku mengangguk, lalu menjabat tangan Ichi-Chan erat. "Jangan lupa buka kado dariku," bisik Ichi-Chan. Aku mengangguk, air mataku sudah menutupi pelupuk mataku. "Janji tidak akan melupakan aku?" lagi-lagi aku mengangguk, mengiyakan pertanyaannya. "Kalian bisa bertemu lagi di setiap liburan," Hayamashi Asae - Obasan, begitu aku biasa memanggil ibu Ichi-Chan, ternyata juga sudah ada di belakangku.

Kulihat Ichi-chan mengangguk penuh semangat. Meyakinkan aku, bahwa kami akan tetap bisa bertemu walaupun hanya satu tahun sekali. Dan Mama menuntunku menuju pintu masuk pemeriksaan penumpang. Kami berpisah di sana. Membawa semua rasa pilu karena meninggalkan Ichi-Chan.

**********************

Delapan tahun kemudian
Japan Airlines, menuju Bandara Narita, 29 Agustus 2004

"Miss, fasten Your Seatbelt, please" tegur seorang Air Hostess kepada Haruka Mosii sambil tersenyum. "Oh, maaf," bisik Haruka tergagap. Mungkin karena terlalu asyik melamun, sehingga tidak mendengarkan pengumuman bahwa sebentar lagi pesawat JAL yang ditumpanginya akan mendarat di Bandara Narita, Chiba, Jepang. Haruka pun segera mengenakan sabuk pengaman. Memejamkan mata, membayangkan sensasi indah yang menggelitik hatinya. Setelah delapan tahun pergi, kini kembali ke negara yang ikut andil membesarkannya.

Dan sebentar lagi, dia akan menyusuri semua tempat kenangannya di Shibuya, tempat di mana dahulu dia menghabiskan masa kecilnya sampai menjelang remaja. Bahkan juga berharap, masih bisa menemukan Hayamashi Ichiro, cinta pertamanya yang hingga kini masih tinggal di Jepang. "Jepang, aku datang," bisiknya. Senyum tersungging di bibir Haruka yang merah.
"Attention please, this Kawamura your captain. Ten minutes later we will be landing on Narita International Airport," terdengar pengumuman dari pengeras suara. Haruka merasakan hatinya makin melambung jauh.

Begitu pesawat JAL mendarat, Haruka pun mengikuti arus penumpang yang akan turun menuju Lobby, untuk bersama-sama menunggu pesawat lokal yang akan membawanya ke Bandara Haneda, Tokyo. Haruka tidak tahu secara pasti apa saja yang dirasakan. Yang pasti, ketika dia menaiki pesawat lokal untuk menuju Bandara Hendai, perasaan suka citanya berdentam-dentam di hatinya.

*****

"Konnichiwa. I have reserved the room for Mosii Haruka," kata Haruka kepada resepsionis Hotel Four Seasons. Dari hotel ini ke Shibuya hanya sekitar tujuh belas menit dengan kereta subway. Dan lagi, kantor Haruka sering menggunakan hotel yang sudah mempunyai banyak cabang ini jika bepergian ke luar negeri. "Wait the minutes, Miss Mosii," resepsionis yang cantik, khas wajah-wajah yang sering kita temui di dorama-dorama Jepang yang sering hadir di setiap stasiun Televisi Indonesia, tersenyum kepada Haruka, kemudian sibuk di depan komputernya, mengecek apa yang diminta oleh Haruka.

"Oh, saya kira ada, Miss. Anda ditempatkan di kamar tiga kosong satu." Resepsionis itu mendongak, menatap sambil tersenyum ke arah Haruka. "Oh, terima kasih," ucap Haruka lega.
"Dan jika boleh saya bertanya, untuk berapa hari anda menginap di sini?" "Mungkin sekitar satu minggu. Saya sedang berlibur," Haruka tersenyum ke arah resepsionis yang name tag-nya bertuliskan Otoshi. "Baiklah. Akan membayar dengan chek, cash atau dengan credit card?"

"Dengan Visa saya rasa," Haruka menyodorkan kartu kredit Visanya. Otoshi-San menerimanya. Mengecek sebentar, kemudian menyerahkan kertas kwitansi kepada Haruka. "Tolong tanda tangan di sini, Miss," Otoshi-San menunjukkan tempat di mana Haruka harus tanda tangan. Haruka pun menurutinya. "Selamat datang di Four Seasons. Semoga anda menikmati liburan anda di Jepang, dan roomboy akan mengantar anda ke kamar," ucap resepsionis sambil tersenyum.

Roomboy yang entah kapan sudah berdiri disampingnya, sudah siap untuk mengantarnya ke kamar. "Terima kasih," ucap Haruka, membungkukkan badan sedikit kepada Otoshi-San, yang dibalas dengan sempurna oleh resepsionis itu. Kemudian Haruka mengikuti langkah roomboy itu ke kamar yang dia pesan. Sepanjang perjalanan menuju kamar tiga kosong satu, Haruka selalu tersenyum-senyum. Tidak diperhatikannya roomboy itu terus mengamatinya. Mungkin wajah Jepangnya menarik perhatiannya. Tetapi kulitnya yang tidak selangsat gadis jepang kebanyakan tentu membingungkannya.

"Silakan, Miss," Roomboy itu membuka pintu kamar tiga kosong satu, mempersilakan Haruka memasuki kamar itu terlebih dahulu. Haruka mengangguk, tersenyum, kemudian memasuki kamarnya. Roomboy itu sendiri sibuk memasukkan koper dan travel bag milik Haruka ke dalam kamar. "Permisi, Miss," kata Roomboy itu setelah memeriksa semua fasilitas di kamar.
"Maaf, bagaimana caranya saya jika ingin pergi ke Shibuya?" tanya Haruka. Roomboy itu menatapnya sebentar. "Anda akan kemana?" tanya Roomboy itu.

Haruka segera membuka buku agenda yang selalu dia bawa dan simpan di tas tangannya. Kemudian melihat alamat keluarga Hayamashi. "Yoyogi Uehara nomor lima belas," ucapnya.
"Yoyogi, anda bisa ke sana dengan kereta subway, naik dari Stasiun Tokyo di dekat sini lalu turun di Stasiun Yoyogi, atau langsung naik taksi ke sana. Naik kereta subway hanya tujuh belas menit," jawab Roomboy itu dengan sopan. "Stasiun Tokyo terletak di belakang hotel kami," lanjut Roomboy, setelah melihat tatapan wajah Haruka yang terlihat bingung.

"Oh, terima kasih. Sebaiknya saya menggunakan taksi saja," kata Haruka setelah diam sejenak. Roomboy itu mengangguk. "Anda bisa memesan taksi dari hotel," kata Roomboy itu memberi informasi. "Oh ya, saya akan ingat itu. Terima kasih," bilang Haruka sambil menyelipkan selembar uang Yen ke tangan Roomboy itu. Roomboy itu pun pergi, meninggalkan Haruka yang tertegun. Di hati gadis berusia dua puluh lima tahun itu berkecamuk berbagai macam perasaan. Dan yang benar-benar dirasakannya kini adalah rasa gugup bercampur bahagia, karena akan bertemu kembali Ichiro-nya.

************

"Arigato," ucap Haruka seraya menyodorkan uang dua puluh Yen kepada supir taksi di depannya. Supir taksi itu mengangguk, menunggu Haruka keluar dari taksi, dan kemudian meninggalkan Haruka yang menatap ke sebuah rumah dengan halaman yang sempit di depannya. Rumah yang dahulu begitu akrab dengannya. Delapan tahun yang lalu, dia selalu menghabiskan waktunya di sana. Yang menyimpan begitu banyak kenangan indah bagi hidupnya. Pintu masuk rumah itu langsung berhadapan dengan pintu pagar rendah yang kini dipegangnya. Sudut matanya melirik papan nama yang ada di sebelah kiri pintu pagar

Hayamashi

Hati Haruka makin berdebar-debar. Kakinya terasa lunglai, seperti tidak mampu untuk berjalan. Namun dikuatkan hatinya untuk menekan bel rumah yang ada di bawah papan nama itu. Kemudian pintu rumah dibuka. Ada wanita setengah baya di depan pintu itu, dan Haruka hapal sekali dengan wajah manis yang sudah dipenuhi garis-garis tipis menuju usia senja.

"Obasan!" serunya bahagia. Haruka yakin, itu adalah ibu Ichiro, yang biasa dia panggil Asae-Obasan, Bibi Asae. Wanita setengah baya itu menatapnya lama. Keningnya berkerut, seperti sedang mengingat sesuatu. Lalu tersenyum lebar dan beranjak mendekati pintu pagar. Membukanya dan meraih Haruka ke dalam pelukannya. "Haru-Chan! Astaga! Kau ada di sini!"
Keduanya tenggelam dalam keharuan. Hayamashi Asae kemudian berteriak-teriak memanggil suaminya. "Sagota-San! Ada Haru-Chan!"

"Ayo masuk, Ojisan pasti senang melihatmu," ajak Hayamashi Asae kepada Haruka untuk masuk ke dalam rumah. Haruka menurut. Mengikuti langkah kaki perempuan yang pernah begitu dekat dengannya di masa remajanya dahulu. Hatinya makin berdentam-dentam. Sebentar lagi aku akan bertemu Ichi-Chan, bisiknya riang di dalam hatinya.

**********

Ada Hayamashi Sagota, ayah Ichiro, di teras belakang. Haruka ingat sekali, itu adalah tempat kesukaannya dan Ichiro setiap mereka bermain di rumah ini. Paman Sagota juga paling suka bermain bersama mereka di teras belakang. "Haru-Chan!Ah, akhirnya kamu kemari!" seru Paman Sagota kepada Haruka yang sedang berjalan ke arahnya. Haruka kemudian berlari, memeluk Paman Sagota erat. "Genki desu ka, Ojisan?" sapa Haruka dengan keharuan yang amat sangat. Setelah delapan tahun berpisah dengan mereka, tentu saja bahagia tidak terkira akhirnya dipertemukan kembali.

"Genki desu, anata?" Paman Sagota balik bertanya kepada Haruka. menanyakan kabar gadis itu. Haruka hanya tersenyum, menatap Paman Sagota dengan bahagia. Wajah laki-laki tua di depannya bagai pinang dibelah dua dengan Ichiro. "Ayo, duduk sini. Acara melepas kangennya sambil duduk di sini!" seru Bibi Asae, memanggil keduanya dari ruang dalam yang menembus teras belakang. Ruang yang Haruka hapal benar, dipakai keluarga itu untuk nonton Televisi sambil makan sore. "Ayo, Obasan baru saja membeli ubi bakar yang enak juga kue ikan," ujar paman Sagota, sambil menuntun Haruka untuk duduk di ruang dalam.

Haruka melipat kakinya, masuk ke dalam kain pemanas di bawah meja. Saat ini musim gugur, jadi udara sudah mulai dingin dan semua alat penghangat mulai dikeluarkan. "Ayo makan, dan ini teh hijau kesukaanmu," Bibi Asae menyerahkan sepiring kecil Ubi bakar serta kue ikan. Kue ikan adalah kue kesukaannya dengan Ichiro. Haruka menerima semua itu sambil tersenyum. Bibi Asae masih mengingat semua yang disukainya saat masih di Jepang. "Bagaimana kabar kedua orangtuamu?" tanya Paman Sagota sambil menghirup teh.

"Mereka baik. Dan mereka titip salam untuk Obasan dan Ojisan," bohong Haruka. Papa dan mamanya tidak tahu kalau dia akan ke Jepang. Mereka hanya tahu putrinya ini pergi ke Hongkong untuk beberapa urusan kantornya. "Aneh. Kenapa mereka tidak kirim kabar kalau kau akan kemari. Ibumu dan aku rutin berkirim e-mail, dan sekalipun tidak pernah menyinggung rencananu untuk berkunjung ke Jepang," bilang Bibi Asae bingung. Kedua alisnya berkenyit, tanda beliau benar-benar merasa bingung.

"Ehm...sebenarnya...," Haruka merasakan kegelisahan. Nafsu makannya mendadak hilang.
"Dan, bukankah satu bulan lagi kau akan menikah?" Bibi Asae seperti teringat akan sesuatu. Memalingkan wajahnya kepada Haruka. Mau tidak mau Haruka mengangguk. Dia tidak mungkin bisa berbohong terlalu lama. Mamanya dan Bibi Asae pasti sudah banyak bertukar kabar.
"Lalu, mengapa kau ke Jepang? Ada tugas dari kantor?" tanya Paman Sagota penuh kasih.

Haruka menggeleng. Perlahan butiran air matanya jatuh dan membentuk anak sungai di pipinya. "Haru-Chan? Ada apa?" tanya Bibi Asae. Beliau beringsut mendekati Haruka dan memeluknya dengan sayang. Paman Sagota bergegas mencari tissu dan menyodorkan satu kotak besar kepada Haruka, yang diterimanya dan langsung digunakannya. "Saya...saya ingin bertemu Ichi-Chan. Saya hanya mencintai dia...," isak Haruka. Sejenak, Bibi Asae dan Paman Sagota terdiam dan saling memandang. Tetapi jemari lembut Bibi Asae tidak berhenti membelai bahu Haruka lembut.

"Shhh...menangislah. Puaskan menangismu, Sayang," bisik Bibi Asae lembut. Kini tangannya sibuk membelai Haruka, sedangkan satu tangannya yang lain menggusah Paman Sagota keluar ruangan. Memberi suatu kode kepada suaminya. Paman Sagota paham, kemudiam beringsut keluar. Lalu menuju meja telepon. "Ichi-San. Ya ini Otoosan. Bisakah kau ke rumah? Ya, ada yang ingin kami bicarakan denganmu.” Haruka masih menyisakan tangisannya. Tangannya sibuk menghapus sisa-sisa air mata di pipinya dengan tissu yang tadi diberikan oleh Paman Sagota. Saya hanya ingin bertemu dengan Ichi-Chan," bisik Haruka diantara sedu sedannya.

Bibi Asae dan Paman Sagota saling bertukar pandang. Mereka tidak tahu harus bagaimana menanggapi keinginan Haruka. "Saya tidak pernah ingin menikah dengan lelaki manapun, kecuali dengan Ichi-Chan," Haruka masih terus saja berkeluh kesah. Lagi-lagi Paman Sagota dan Bibi Asae hanya dapat saling melirik. Mereka paham sekali cinta yang terjalin diantara putra mereka dengan Haruka. Tetapi mereka juga paham mengapa Hasyim Mosii, ayah Haruka, seperti tidak menyetujui cinta keduanya dan mencoba menikahkan Haruka dengan laki-laki lain. "Papa yang ingin saya menikah dengan Kak Hismar. Saya hanya mencintai Ichi-Chan," isak Haruka makin lama makin kencang.

"Tetapi, Haru-Chan…Ichi-San tidak lagi tinggal bersama kami," akhirnya Paman Sagota menanggapi ucapan Haruka. Seketika sedu sedan Haruka berhenti. "Tidak tinggal di sini?" tanyanya tidak mengerti. Haruka menatap Bibi Asae, seperti meminta penjelasan. Sedang wanita tua itu mengangguk, seperti bingung. "Ichi-San sudah bekerja di Ginza. Dia tinggal di apartemen, dekat kantornya," jawab Paman Sagato lagi. Haruka tertegun sejenak. Sesaat tersadar, bahwa tidak mungkin Ichiro masih tinggal bersama orang tuanya, sementara pasti laki-laki itu sudah bekerja, atau bahkan sudah punya kehidupan sendiri.

"Ap-apakah Ichi-Chan sudah punya calon istri?" tanya Haruka takut-takut. Matanya memandang Bibi Asae, berharap bahwa perkiraannya salah. Bibi Asae menggeleng. "Sejauh ini, dia belum pernah membawa perempuan mana pun untuk dikenalkan kepada kami," jawab Bibi Asae bijak. Haruka mengerti, ucapan perempuan separo baya itu bisa jadi menjelaskan, bahwa mungkin saja Ichiro sudah punya pacar di Ginza sana. Haruka tertunduk. Dia kebingungan, seperti juga kedua orang tua Hayamashi di depannya yang juga bingung bagaimana harus bersikap. Mereka sayang kepada Haruka, tetapi mereka juga tidak ingin persahabatannya dengan orang tua Haruka retak karena impian kanak-kanak Haruka dan Ichiro.

Selama ini, mereka pikir, seiring dengan berjalannya waktu, baik Haruka maupun Ichiro akan saling melupakan cinta mereka. Tetapi ternyata, perkiraan mereka salah. Setidaknya, mereka berdua bisa melihat, Haruka masih mencintai Ichiro dan nekad pergi Ke Jepang hanya untuk bertemu anak mereka.

(Bagian I habis)
_________________

--------------------------------------------------------------------------------

Bagian II


Bel pintu berbunyi. Paman Sagota bergegas keluar untuk membukanya. Haruka masih terdiam, Bibi Asae masih memeluknya dengan sayang. terdengar suara-suara di teras depan, tetapi gadis itu tidak memperhatikannya. "Dimanakah alamat Ichi-Chan yang di Ginza, Obasan?"
Belum lagi Bibi Asae menjawab, terdengar sapaan seorang laki-laki. "Haru-Chan?"
Haruka menoleh. Seraut wajah, yang sangat dihapalnya. Wajah tampan Ichiro yang tidak berubah dari delapan tahun yang lalu.

"Ichi-Chan!"

********

Dan kini, Haruka duduk berhadapan dengan Ichiro. Bibi Asae dan Paman Sagota memilih untuk pergi meninggalkan mereka berdua. "Jadi akhirnya kau bisa ke Jepang, Haruka?" Haruka tersentak. Nada suara Ichiro seperti tidak bersahabat. "Ichi-Chan? Ada apa?" Senyum dingin menghias bibir tipis laki-laki impian masa kecil Haruka. Laki-laki yang selalu dicintainya, tetapi kini tidak ramah menyambut kedatangannya. "Setelah delapan tahun kepergianmu, dan setelah semua permohonanku supaya kau datang ke Jepang, juga setelah penolakanmu atas permintaanku untuk datang ke Indonesia. Sekarang kau datang, Mosii-San?"

Haruka makin tertegun. Ichiro, laki-laki di depannya ini, sudah berubah. Kemarahan begitu tampak disetiap perkataan dan sikapnya. Kemarahan yang sangat Haruka pahami. “Kau tahu, Ichi-Chan, Papa tidak memperbolehkan aku pergi sendirian ke Jepang. Aku sudah menjelaskan itu berkali-kali lewat e-mail,” Haruka mencoba memberi penjelasan kepada orang yang sangat dia kasihi itu.

“Berkali-kali aku mencoba menelponmu. Tetapi tidak pernah sekalipun kau menerimanya,” balas Ichiro, masih dengan nada marah yang sama. Haruka terdiam. Kebingungan harus menjawab apa. Dia tahu, papanya yang melakukan semua ini. Telepon-telepon dari Ichiro tidak pernah disampaikan kepadanya. Dan dia tahu, dia memang bersalah, karena selama delapan tahun perpisahan mereka, tidak sekalipun dia datang ke Jepang atau mengundang Ichiro datang ke Jakarta.

“Tetapi keadaan memang tidak memungkinkan untuk kita bertemu selama delapan tahun ini, Ichi-Chan.” Ichiro tidak meberikan reaksi apapun. Bibirnya tetap terkatup rapat. "Kau tahu, Ichi-Chan. Bertemu denganmu adalah impian terbesarku," bisik Haruka sendu. Sementara Ichiro sama sekali tidak menjawab. Dan kebisuan itu semakin mencekam. Memunculkan keyakinan pada diri Haruka, bahwa kisah cintanya dengan Ichiro sudah sulit untuk dilanjutkan lagi. Laki-laki tercintanya itu, kini membencinya. Membenci Haruka yang dianggapnya tidak pernah lagi menegaskan cinta mereka selama delapan tahun perpisahan mereka. Dengan perih, Haruka sadar, Ichiro tidak menginginkan dia berlama-lama di rumah ini. Dengan hati perih, Haruka memilih berpamitan pulang kepada keluarga Hayamashi. Dan memutuskan secepatnya meninggalkan Jepang.

*********************

Delapan tahun yang lalu
Selasa, 14 Febuari 2003, SMU Aoyama Gakuin, istirahat siang

Waktunya para gadis menyerahkan bingkisan, entah itu coklat atau sekedar kartu, kepada laki-laki yang disukainya. Aku sudah memegang satu kado yang kubungkus dengan indah. Kubungkus dengan kertas warna kuning kesukaan Ichi-Chan. Bukan coklat, seperti rata-rata para gadis pilih. Tetapi sebuah sweater berwarna kuning yang susah payah aku rajut, di sela-sela waktunya yang padat dengan berbagai macam les serta kegiatan ekstra kulikuler. Dan aku tahu, Ichi-Chan membutuhkan sweater untuk bepergian.

Aku berjalan ke kelasnya, Ichi-Chan satu tahun di atasku, ingin menyerahkan kado Valentine ini kepadanya. Aku ingin mendahului gadis-gadis lain, karena kutahu ada beberapa gadis di kelasku yang juga naksir kepadanya sejak lama. Dan aku ingin jadi gadis pertama yang menyerahkan kado ini kepadanya. Sampai di kelasnya, ternyata Ichi-Chan tidak ada. Menurut teman satu kelasnya, Ichi-Chan pergi ke perpustakaan. Aku pun bergegas menyusul ke sana.
Tetapi saat berjalan di koridor sekolah, aku melihat bayangan Ichi-Chan ada di belakang sekolah, dekat lapangan atletik. Untuk memastikannya, aku menuju ke sana.

Disana Ichi-Chan tidak sendiri. Ada seorang gadis yang berdiri diseberangnya. Gadis yang cantik, dengan rambut hitam yang panjangnya mencapai punggungnya. Tanpa sadar aku menyentuh rambutku yang lurus sebahu, sering diejek Ichi-Chan ijuk sapu. Tiba-tiba ada suatu perasaan yang mendalam menyerang hatiku. Perasaan takut kalau ternyata Ichi-Chan menerima bingkisan dari gadis cantik itu. Kulihat di tangan gadis itu, memegang satu buah bingkisan kecil warna merah jambu.

Perlahan-lahan, aku mendekati mereka. Ingin mendengar apa saja yang mereka bicarakan. Ingin tahu apa yang terjadi. Untunglah, mereka berdiri persis di dekat pohon besar. Aku berjalan perlahan-lahan dan bersembunyi di balik pohon. Badanku yang kecil, tertutupi oleh besarnya pohon itu. Paling tidak, aku mampu mendengar semua percakapan mereka. "Ehm…Hayamashi-San, ini untukmu," kata gadis itu, terdengar malu-malu. Dalam hati aku ingin marah. Berani-beraninya dia memberikan sesuatu untuk Ichi-Chan. Seluruh murid Aoyama Gaukin tahu, aku dan Ichi-chan sudah sangat dekat. Dan semua meramalkan kami akan berpacaran cepat atau lambat.

Tetapi kemudian aku menghela napas. Bagaimana pun aku tidak menyalahkan gadis itu. Karena beberapa kali kami menyangkal di depan banyak orang bahwa aku dan dia ada hubungan khusus selain persahabatan. Padahal di dalam hatiku, selalu timbul keinginan bahwa hungan kami harus lebih dari itu. Sayangnya, aku bukan termasuk gadis yang berani menyatakan cinta terlebih dahulu. Aku takut, kalau semuanya malah akan merusak persahabatan kami. Jika dia tidak enak hati tetapi terpaksa menerima cintaku, kasihan Ichi-Chan. Tetapi kalau dia menolak, pasti hubungan persahabatan kami akan retak.

Dan kini, karena dorongan dari Wada Megumi, sahabatku yang satu kelas denganku, kuberanikan diri membuat hadiah Valentine untuk Ichi-Chan, sekaligus mencoba menyatakan cintaku. "Kau harus berani. Kapan lagi? Menunggu sampai dia berpacaran dengan gadis lain? Ayolah! Ambil kesempatan Valentine ini!" desak Wada Megumi berkali-kali. Akhirnya, aku beranikan diri untuk menyerahkan sweater ini kepada Ichi-Chan. Pada saat Hari Valentine. Dan sayangnya, kini aku didahului oleh gadis lain. Lagi-lagi aku menghela napas, melihat mereka dengan hati berdebar. Mengharap suatu keajaiban.

Kulihat Ichi-Chan diam saja. Matanya tepat menatap gadis itu. Hatiku terus berdebar.
"Maukah kamu menerimanya?" desak gadis itu pelan. Suaranya benar-benar lembut. Lain dariku yang sering diejek Ichi-chan punya suara stereo. Kulihat Ichi-Chan menghela napas. Tangannya masih ada di dalam saku celananya. "Terima kasih. Tetapi maaf, aku tidak bisa memberi harapan apa pun kepadamu," jawab Ichi-Chan, pelan namun tegas. Hatiku berjumpalitan mendengarnya. Gadis itu terpana sejenak, dan sepertinya hatinya terguncang. Tetapi kemudian berhasil menguasai dirinya untuk tidak menangis. Kalau aku yang ada diposisinya, pasti sudah habis aku menangis dan meraung.

"Oh, begitu," ucap gadis itu pelan, bergetar kalau aku tidak salah dengar. "Ada yang kau harapkan memberikan? Seseorang yang istimewa?" "Ada. Dan seharusnya semua orang sudah tahu." Jawaban Ichi-Chan membuatku bergetar. Aku kah yang dia maksud? Diam-diam kumaki diriku dalam hati. Memangnya se-GR apa sih aku ini? "Oh. Kalau begitu sebaiknya aku pergi sekarang," kata gadis itu lagi. Aku masih termangu melihat semua kejadian yang kuintip itu. Sampai tidak sadar gadis itu sudah berlalu. "Dan sejak kapan kamu punya kegemaran mengintip, Haru-Chan?" Aku tersentak. Ternyata dia tahu, aku ada di sini!

Aku bingung harus bagaimana bersikap. Keluar dari persembunyianku atau memilih diam. Aku benar-benar bingung. Dan tiba-tiba saja, tangan Ichi-Chan menarik diriku dari tempat persembunyian. Mau pingsan rasanya. "Dan aku menunggu kado Valentine darimu, Haru-Chan," ucapnya tegas.

*********************

Hotel Four Seasons, kamar tiga kosong satu.
Tanggal 30 Agustus 2004

Di kamar hotelnya, Haruka menggenggam syal merah, balasan dari Ichiro saat White Day. Syal merah dan sweater kuning itu adalah lambang cinta mereka. Air mata Haruka menetes di pipinya. Mengingat semua kenangan saat mereka masih SMU dulu. Bagaimana akhirnya pada hari Valentine itu merupakan hari yang sangat bersejarah bagi mereka berdua.
Tetapi dia masih ingat dengan sambutan tak ramah Ichiro di rumah keluarga Hayamashi tadi siang. Hati Haruka merasa hampa begitu mengingat hal itu. Bahkan dia masih mengingat semua detailnya, terutama saat berpamitan dengan keluarga itu, laki-laki yang dicintainya itu sama sekali tidak menoleh kepadanya. Tanpa sadar, tangisannya makin kencang. Cinta yang dengan pasti dia ingin raih kembali. Meninggalkan semua kebahagiaannya di Jakarta, bahkan berani menetang papanya untuk menikah dengan pilihan beliau. Demi hanya untuk mendapatkan cinta Ichiro kembali.

Ketukan dari pintu kamar hotelnya, menghentikan tangis Haruka. Dengan langkah ragu, dibukanya pintu kamar itu. Haruka tidak merasa menunggu seorang tamu saat ini. Selain keluarga Hayamashi, dia tidak menemui orang lain. Dan semakin tertegunlah Haruka saat dia membuka pintu. Ada Ichiro di sana. Ditangan laki-laki itu, ada sweater kuning yang sudah pudar termakan usia. Tetapi Haruka masih mengingat dengan jelas, bahwa sweater itu adalah lambang cinta mereka. "Delapan tahun aku menunggumu, Haru-Chan. Menunggumu memakaikan sweater Valentine kita padaku," ucap Ichiro.

Suaranya sudah tidak lagi marah dan dingin. Kini berubah sedih dan kecewa. Haruka ingin memeluknya, mengatakan bahwa dia pun selalu ingin bertemu dengan Ichiro. Tetapi keadaan tidak memungkinkan dia untuk nekad pergi ke Tokyo. "Aku pun selalu rindu padamu, Ichi-Chan," bisik Haruka. Perlahan, jarinya menggapai tangan Ichiro. Pelan dan tidak terlalu erat, Haruka masih takut dengan penolakan Ichiro tadi siang. Tetapi Ichiro malah membalas genggaman itu. Mereka pun saling menggenggam tangan erat. Seperti ingin menumpahkan semua kerinduan mereka. Kerinduan yang terhalang selama delapan tahun perpisahan mereka.

"Aishiteru," bisik Ichiro. Haruka terpana. Tetapi perlahan, senyumnya terukir di bibirnya yang mungil. Membalas senyum Ichiro yang sudah berkembang. "Aishiteru," balas Haruka.
"Aku benar-benar kangen kamu" Ichiro tidak berani meneruskan pernyataannya. Matanya terpejam, mencari kata-kata yang tepat. "Apakah itu artinya Ichi-Chan memaafkan aku?" tanya Haruka penuh harap. "Ya, dan aku berharap kita bersama lagi," balas Ichiro. Keduanya kemudian diam, masih saling bergenggaman tangan. "Kau tidak akan meninggalkanku lagi, Haru-Chan?" harap Ichiro. Haruka menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Aku akan di sini. Disampingmu, selamanya," tekad Haruka. Senyum Haruka mengembang. Dan keduanya larut dalam kebahagiaan. Cinta mereka, yang terpisah selama delapan tahun, mulai lagi tersambung. Dan kini harapan mereka adalah untuk tidak terpisahkan lagi. Masa-masa bahagia kini milik Haruka dan Ichiro. "Bagaimana dengan semua kehidupanmu di Jakarta?" tanya Ichiro. Tatapannya begitu berharap pada Haruka. "Aku harus meninggalkannya, bukan?" tanya Haruka dengan nada menegaskan. Pertanyaan yang tidak perlu terjawab. Ichiro tersenyum mendengar ungkapan Haruka itu. Genggaman tangannya makin erat.

"Kau rela meninggalkan segala kehidupanmu di Jakarta?" Haruka mengangguk pasti, sebagai jawaban atas pertanyaan dari Ichiro. Mereka kembali terhanyut, akan cinta mereka yang sempat terhalang selama delapan tahun. Sampai tak menyadari, bahwa keduanya masih berdiri di depan pintu kamar Haruka. "Ehem," Haruka dan Ichiro tersentak. Keduanya secara reflek melepaskan genggaman tangan mereka. "Ah, gomen!"seru Haruka menutupi rasa malunya. Perempuan yang berdehem itu hanya tersenyum maklum. Dasar anak muda, jaman sudah berubah sepertinya, bisik perempuan tua itu dalam hati.

"Sumimasen." Keduanya tersenyum malu. Hanya mengangguk untuk menjawab salam dari perempuan tua itu. "Ayo, kita keluar," ajak Ichiro. Haruka menurut dan mengikuti langkah Ichiro.
"Kita akan kemana?" tanya Haruka. Sejenak Ichiro terdiam. Bibirnya mengulum senyum penuh rahasia. "Kau akan tahu," jawab Ichiro akhirnya.

***********

Di Taman Yoyogi. Keduanya ada di sana. Berjalan memasuki taman sambil bergandengan tangan erat. Sesekali keduanya tersenyum. "Kau ingat, tidak? Kita selalu menghabiskan sore di sini," kata Ichiro mengingatkan Haruka. Haruka tertawa riang. "Tentu saja ingat! Di sini tempatku bermain. Lihat! Ayunan itu masih ada!" Haruka berlari-lari kecil.
Semangatnya naik ketika dilihatnya ayunan yang sering dimainkannya delapan tahun yang lalu, tetap berdiri kokoh di taman itu. Dia langsung menduduki ayunan itu.

Ichiro tertawa lebar, melihat tingkah Haruka yang seperti kembali pada masa usia mereka delapan belas tahun. "Ingat tidak, kau sering mengayunkan aku kencang-kencang," Haruka kini yang mengingatkan Ichiro. Kekasihnya itu tersenyum kecil. Tentu saja laki-laki itu ingat. "Dan kau akan berteriak-teriak minta diturunkan. Tetapi saat diturunkan, kau marah saat ada yang memakai ayunan ini," jawab Ichiro geli. Keduanya tertawa. Mereka mencoba mengingat semua kenangan manis yang pernah hadir di hidup mereka yang kemudian terputus selama delapan tahun. Kenangan yang membuat cinta mereka kembali hangat.

"Senang rasanya kembali ke tempat ini," ucap Haruka lirih. Ya, aku pun senang," ucap Ichiro. Keduanya kemudian hanyut dengan kenangan mereka di taman ini. Dan tak terasa waktu berlalu. Hari pun mulai merayap menuju malam. "Sebaiknya aku mengantar Haru-Chan ke hotel. Besok kita akan bertemu lagi. Besoknya lagi, besoknya lagi," jawab Ichiro sambil tersenyum. "Kemudian besoknya lagi, besoknya lagi," balas Haruka dengan bahagia. Ichiro tertawa mendengarnya. "Ayo, kuantar kau pulang. Lalu aku kembali ke Ginza,"ajak Ichiro.

"Ichi-Chan, apakah sebaiknya aku mulai mencari apartemen dan pekerjaan di Ginza?" tanya Haruka tiba-tiba. "Aku akan tinggal di Jepang, kan?" Ichiro mengangguk. "Sebaiknya begitu. Kita bisa tinggal satu apartemen, atau...," Ichiro menangguhkan ucapannya. "Atau apa?" tanya Haruka sambil lalu, mengikuti langkah-langkah Ichiro menuju Stasiun Yoyogi.
"Atau...kita menikah?" Haruka ternganga mendengar ucapan Ichiro. Kemudian tertawa bahagia sambil memeluk lengan Ichiro. Hatinya menghangat begitu mendengar penuturan kekasihnya itu.

(Bagian II habis)
_________________

Posted: Thu Apr 01, 2004 10:51 pm Post subject:

--------------------------------------------------------------------------------

Bagian III

Haruka baru saja keluar dari kamar mandi. Dia mandi setelah setengah jam lalu Ichiro mengantarnya sampai depan kamar hotelnya, kemudian mengejar kereta menuju Ginza. "Mata ashita ne, oyasuminasai," pamit Ichiro kepadanya, seraya mencium keningnya sekilas. Rasa sejuk mengalir di hatinya. Dan begitu dia keluar dari kamar mandi, telepon di kamar hotelnya berbunyi. Buru-buru Haruka mengangkatnya. "Hallo?" "Miss Mosii, ada Telepon Internasional untuk anda," Operator memberitahukan telepon yang datang untuknya.

Haruka mengernyitkan dahinya. Telepon Internasional? Tidak ada seorang pun dari Jakarta, kalau dia pergi ke Tokyo dan menginap di hotel ini. "Baiklah, tolong sambungkan. Arigato," putus Haruka pada akhirnya. Dia penasaran siapa yang menelponnya. "Okey. Please wait," balas sang operator. Kemudian ada nada sambung dari seberang. "Haruka!" Haruka terhenyak. Itu suara mamanya. "Mama? Darimana Mama tahu Haru ada di sini?" Haruka bertanya dengan bingung. Dia bingung bagaimana harus bersikap kepada mamanya.

Dari seberang sana, terdengar mamanya menghela napas. "Intuisi seorang ibu," jawab mamanya dari seberang. "Dari Obasan?" selidik Haruka. Tidak ada jawaban, Haruka yakin tebakannya benar. "Ini semua karena Ichi-San?" mamanya malah menanyakan sesuatu yang belum siap dia jawab. Kali ini Haruka yang kehabisan kata. "Mama tahu, Haru tidak mau dijodohkan dengan Nak Hismar. Mama tidak salah duga, kan?" berondong mamanya, begitu tahu Haruka tidak berniat untuk menjawab pertanyaannya.

Haruka benar-benar bingung bagaimana menjawabnya. Dia belum siap untuk berbicara langsung seperti ini. Dia baru merencanakan menelepon mamanya setelah merasa hatinya siap. Mungkin setelah mendapatkan pekerjaan dan apartemen tetap di Ginza, baru akan berbicara kepada orang tuanya. Tetapi ternyata Bibi Asae berpikir lain , bahwa mamanya harus cepat tahu. Dan kini, mamanya sudah menelponnya. Haruka tidak mampu berbuat apa-apa, bahkan untuk marah kepada Bibi Asae sekalipun.

"Haru?" mamanya masih menunggu jawabannya di seberang sana. "Ya Ma, Haru masih ada di sini," jawab Haruka pelan. Tidak berdaya mendengar suara mamanya yang terdengar sedih serta letih. Tiba-tiba perasaan bersalah karena tidak berterus terang dari awal kepada mamanya, menyerang dirinya. "Sayang, Haru sayang dengan Mama dan Papa, kan?" tanya mamanya. Haruka menghela napas. "Tentu saja. Kalian adalah orang tua terbaik yang pernah Haru miliki," jawab Haruka. "Lalu adakah tindakan kami yang menyakitkanmu, Sayang?" mamanya bertanya lagi. Haruka makin merasa bersalah.

Kalian adalah orang tua terbaik sedunia. Mereka selalu mencintaiku! seru Haruka dalam hati. Tetapi aku tidak mungkin menuruti keinginan papanya menikah dengan laki-laki pilihannya, hanya untuk membalas semua kebaikan oerang tua. "Sayang, apakah Hismar pernah berbuat yang tidak baik kepadamu?" mamanya masih terus memberondong pertanyaan kepadanya.
"Baik, Kak Hismar selalu baik kepada Haru," jawab Haruka. Tetapi aku tidak mencintainya, lanjutnya dalam hati. "Apakah Hismar kalah segalanya dibanding Ichi-San?" pertanyaan mamanya semakin jauh. "Tidak," jawab Haruka.

Tetapi aku mencintai Ichi-Chan, Ma! lagi-lagi Haruka hanya mampu melanjutkannya dalam hati. "Lalu mengapa Haru harus menolak perjodohan ini?" tanya mamanya tidak mengerti.
Haruka menghela napas. "Ma, apa yang membuat Mama menikah dengan Papa?" Haruka kini balik bertanya. Bertekad akan memperjuangkan cintanya dan Ichiro, apapun yang menjadi resikonya akan dia lawan. "Karena kami saling mencintai," jawab mamanya. "Begitu pun dengan Haru, Ma. Haru menolak perjodohan ini karena mencintai Ichi-Chan. Haru ingin menikah dengan Ichi-chan," timpal Haruka tegas.

Tidak ada suara di seberang sana, hanya helaan napas panjang yang sepertinya begitu berat terdengar. "Ma. Mama pasti paham dengan keputusan Haru, kan?" tanya Haruka. "Mama paham, Sayang. Tetapi yang Mama tidak paham, adalah tindakan Haru yang tidak pamit sama sekali untuk pergi dan menetap di Jepang. Bahkan kepada Mama pun tidak pamit." Mamanya seperti terdengar menyesali tindakannya. "Bilang kalau ingin bersama Ichi-Chan? Itu sama saja dengan menyakiti hati Papa dan Mama," jawab Haruka getir.

"Lalu apakah apakah tindakanmu sekarang ini tidak melukai kami, Nak?" Haru terdiam. Pertanyaan mamanya benar. Tindakannya kali ini pun melukai hati Papa dan mamanya. Pergi diam-diam tanpa pamit, dan kemungkinan tidak kembali. “Tetapi Haru melakukannya karena terpaksa. Kalau tidak begini, Papa tidak akan pernah sekalipun menyetujui cinta Haru kepada Ichi-Chan,” kata Haruka, membela diri. “Apakah pernah Haru mengungkapkan hal ini kepada Papa?” “Belum.” “Jadi Haru tidak boleh menilai Papa seperti itu.”

“Tetapi sejak dulu Papa selalu menghalangi Haru untuk bersama dengan Ichi-Chan.” “Haru belum mencobanya,” kata mamanya sambil tetap membela papanya. Haruka hanya mampu diam.
“Pulanglah, Nak. Mungkin kau bisa bicara baik-baik dengan Papa mengenai ini,” pinta Sang Mama. Tetapi begitu sampai di Jakarta, Papa akan meneruskan usahanya untuk menjodohkanku dengan Kak Hismar, batin Haruka memberontak. "Tetapi Papa pasti akan kembali menjodohkan Haru dengan Kak Hismar," bantah Haruka. "Itu karena Papa melihat Hismar laki-laki yang baik dan bisa diandalkan untuk menjadi suamimu," jawab perempuan yang telah melahirkan dan membesarkannya itu, membela keputusan Papa. Dan Haruka mengakui dalam hati, Hismar adalah laki-laki yang baik, yang bisa memahami keadaan dirinya.

"Tetapi Haru mencintai Ichi-Chan, bukan Kak Hismar," kata Haruka mencoba mempertahankan pendapatnya. "Apakah pernah Haru mengijinkan hati Haru untuk benar-benar mengenal Hismar dan membuka hati untuknya?" tanya Mama menuntut. Tidak pernah, jawab Haru dalam hati dengan getir. Selama ini dia terobsesi dengan cintanya terhadap Ichiro dan tidak sekalipun mengijinkan Hismar masuk ke dalam hatinya. "Dengar Sayang. Pada saat memutuskan untuk tinggal di Jepang, Haru harus tahu apa saja resikonya," ucap mamanya, mencoba mengingatkan. "Demi cinta, resiko itu akan teratasi dengan sendirinya, Ma," jawab Haruka dengan yakin. "Benarkah? Bagaimana dengan perbedaan kebudayaan diantara kalian?"

"Mama juga orang Jepang. Mama bisa membaur dengan budaya Gorontalo keluarga Papa. Haru setengah Jepang, pasti lebih mudah berbaur dengan Ichi-Chan," jawab Haruka, mencoba meyakinkan mamanya. "Mama perlu waktu sampai delapan tahun pernikahan kami sampai keluarga Papa menerima Mama. Sedang Haru sudah terbiasa dengan budaya Indonesia dibandingkan budaya Jepang, selama ini" jawab beliau lugas. Benar juga, Haruka masih ingat betapa dia sulit berbaur dengan saudara-saudara papanya. Bahkan sampai sekarang keluarga papanya selalu menjaga jarak dengan mereka.

Yang lebih pmembuat miris hatinya lagi, Mamanya sudah tidak diterima lagi oleh keluarganya sendiri di Jepang. Sampai kini, Haruka tidak pernah bertemu dengan mereka. Bahkan ketika keduanya meninggal, Haruka tidak bisa melihat jenazah keduanya, karena keluarga besar kakek dan neneknya tidak mengijinkan mereka untuk datang. Dan itu yang membuat Mama menangis setiap saat, sampai hampir membuat kedua orang tuanya bercerai. Lagi-lagi Haruka terpekur, mengingat semua perjuangan cinta kedua orangtuanya yang sungguh berat.

"Tetapi Obasan dan Ojisan menyayangi Haru, Ma," kata Haruka menentang. "Bagaimana dengan keluarga besarnya? Menikah dengan Ichiro berarti berkumpul bersama keluarga besar Hayamashi," mamanya mencoba mengingatkan. Itu benar. Mau tidak mau dia harus berjuang untuk dapat diterima menjadi bagian keluarga Hayamashi. "Sayang, menikah dengan Ichiro juga harus berurusan dengan masalah hukum dan keimigrasian," kata Mama mengingatkan.
Haruka paham akan hal itu.

“Itu artinya Haru akan melewatkan banyak sesi introgasi dari pihak keimigrasian Jepang maupun Indonesia. Apalagi jika Haru berniat pindah kewarganegaraan. Itu sulit dilakukan setelah ramai terjadi pernikahan kontrak antara laki-laki Jepang dan perempuan Philipina, pihak keimigrasian Jepang makin mempersulit aturan untuk pengajuan kewarganegaraan,” Haru mendengar mamanya panjang lebar memberikan penjelasan. "Haru akan tetap berwarga negara Indonesia, Ma," jawab Haruka menenangkan mamanya.

"Bagaimana dengan kewarganegaraan anakmu kelak? Itu akan jadi masalah kalau ayah dan ibunya berbeda kewarganegaraan. Lagipula di Indonesia, jika perempuan menikah di negeri orang dengan warga asing, juga jadi masalah keimigrasian di Indonesia," mamanya mencoba menerangkan lebih banyak lagi. Ada banyak masalah yang menghadang, Haruka terpekur. Dari awal dia pergi ke Jepang, dia menyadari bahwa memang akan banyak masalah tentang dimana tinggal dan menetap di Jepang, apalagi jika menikah dengan Ichiro.

"Bagaimana dengan hidupmu? Pekerjaanmu? Warga negara asing tidak mudah mendapatkan pekerjaan di Jepang, apalagi langsung mendapat posisi bagus," lagi-lagi mamanya mengingatkan pengalaman Papa saat masih tinggal di Jepang. Bertahun-tahun Papa mengabdi pada sebuah perusahaan ternama di Jepang, tetapi tidak sekalipun mendapatkan promosi kenaikan jabatan atau gaji. Sebagai warga negara asing, Papa mendapat perlakuan sebagai warga kelas dua. Dan lagipula di Jepang berlaku sistem senioritas. Perlu waktu minimal sepuluh tahun supaya kita bisa dipromosikan naik jabatan. Karena itulah Papa memutuskan pulang ke Jakarta, untuk mendapatkan perlakuan lebih baik.

Kali ini Haruka tidak mampu menjawab apa-apa. “Bagaimana dengan perbedaan keyakinan kalian? Bagaimana kalian akan mengatasinya?" mamanya menanyakan hal yang paling sensitif. Haruka belum memikirkannya sampai ke sana. "Di Jepang pernikahan beda agama tidak dipermasalahkan, Ma," jawab Haruka akhirnya, tegas. "Lalu apakah Haru akan merasakan kenyamanan mempunyai suami yang berbeda agama? Ingat Sayang, Suami adalah pemimpin rumah tangga. Bagaimana perasaanmu jika tidak bisa bersama-sama beribadah dengan suamimu?" Haruka benar-benar tidak mampu menjawab lagi. Semua argumentasi mamanya benar.

"Ma, bolehkah Haru memikirkannya dulu? Haru benar-benar ingin mendapatkan yang terbaik untuk hidup Haru," pinta Haruka dengan nada memohon. Terdengar helaan napas yang makin berat dari seberang sana. "Sayang, Mama ingin yang terbaik buat hidup Haru. Jika memang Haru memutuskan ingin terus bersama Ichiro, Mama ikhlas. Dan Mama akan membujuk Papa untuk ikhlas,” kata Mama pada akhirnya. "Terima kasih, Ma," ucap Haruka lega. "Sama-sama, Sayang." Tetapi Haruka tidak sepenuhnya lega. Setelah pembicaraan mereka lewat telepon usai, dia kembali memikirkan semua keputusannya untuk kembali bersama Ichiro. Dia merasa semua perkataan mamanya ada benarnya. Ada banyak masalah yang akan dihadapinya jika tetap bertahan untuk tinggal di Jepang. “Tetapi aku mencintai Ichi-Chan. Aku dan dia pasti bisa melewatinya,” desah Haruka dengan suara yang mulai meragu.

************

Esoknya, ketika keduanya kembali bertemu. Haruka jadi begitu tidak bersemangat. Ucapan mamanya, ketika di Jakarta yang tidak pernah dianggapnya, entah kenapa sangat membekas di hatinya kini. "Ada apa? Dari tadi Haru-Chan lebih banyak diam." Teguran dari Ichiro menyentakkan lamunan Haruka. Gadis itu menatap Ichiro, laki-laki yang dicintainya dengan sepenuh jiwanya. Yang kini ada dihadapannya dan akan terus berada dihadapannya.

Saat ini, mereka sedang menikmati makan siang di sebuah Kafe di daerah Ginza. "Mama telepon semalam," Haruka menjawab pelan. "Lalu? Menyuruhmu kembali?' tanya Ichiro dengan cepat. "Tidak. Hanya mengungkapkan bebarapa kemungkinan yang akan aku hadapi jika memilih tinggal di Jepang," bilang Haruka. "Seperti apa?" "Masalah keimigrasian, kehidupanku selanjutnya, dan juga masalah pekerjaan yang mungkin saja sulit kudapat. Dan yang paling terutama, perbedaan keyakinan kita," jawab Haruka, mengingat kembali semua perkataan mamanya kepadanya.

"Lalu, apakah itu akan membuat Haru-Chan mundur?" wajah Ichiro menyiratkan kecemasan.
Haruka menghela napas, bingung akan menjawab apa. "Entahlah. Sepertinya keputusan ini membuat orang yang aku sayangi jadi terluka," jawab Haruka. Ichiro mengenggam jemari Haruka kuat-kuat. "Kita akan mengatasi masalah ini bersama. Aku janji," kata Ichiro menenangkan hati Haruka. "Janji?" Ichiro mengangguk kuat-kuat. Meyakinkan bahwa semua keputusan yang mereka ambil akan membuat mereka bahagia.

“Lambat laun, mereka akan menerima cinta kita. Biarkan sekarang seperti ini. Aku yakin, pada akhirnya mereka, terutama papamu, akan menerima hubungan kita dengan baik,” kata Ichiro, mencoba menyakinkan hati Haruka yang mulai bimbang. "Ya, Benar!" seru Haruka riang. Yakin bahwa cinta mereka berdua kuat. Keduanya tertawa. Keduanya yakin akan masa depan yang terbentang di hadapan mereka berdua. Terutama Haruka. Dia semakin yakin dengan pilihannya untuk bersama Ichiro. Dia yakin ucapan mamanya semalam itu hanyalah sebuah bentuk pemaksaan yang halus supaya dia kembali ke Jakarta dan menerima perjodohannya dengan Hismar. Haruka menggapai tangan Ichiro, dan kemudian mengecupnya. Ichiro menatap Haruka dengan cinta yang mendalam. “Aishiteru.”

**************

"Oyasuminasai, Haru-Chan," bisik Ichiro mesra, mencium kedua pipi dan kening Haruka sepenuh hatinya. "Mata ashita ne," balas Haruka. Besok Ichiro berjanji akan mengantar Haruka ke Agen Tenaga Kerja, mencarikan pekerjaan yang cocok untuknya. Lalu Haruka masuk ke kamarnya. Bertepatan dengan itu, telepon di kamarnya berdering kembali. Dia tersenyum.
Pasti Mama, tebaknya dalam hati. "Ya, silakan sambungkan," kata Haruka riang.

Lalu terdengar nada sambung. "Hallo. Haru? Ini Kakak," Haruka tersentak. Itu suara Kak Hismar.

Bagian IV


"Kak Hismar? Kenapa...?" Haruka sebenarnya ingin bertanya untuk apa Hismar menelponnya. Tetapi rasanya itu tidak sopan. Maka dihentikannya kalimat pertanyaannya itu. "Kakak hanya ingin tahu kabar Haru saja." Jawaban Hismar membuat hati Haruka mencelos. Hanya ingin tahu kabarku? Untuk apa? Jika dia tahu aku tidak pergi ke Hongkong tetapi malah minggat ke Jepang, tentu Mama sudah memberi penjelasan kepadanya tentang kisah cintaku dengan Ichi-Chan. Jadi buat apa dia ingin tahu kabar calon pengantinnya yang berkhianat ini? Haruka bertanya-tanya dalam hati tentang tujuan Hismar menelponnya.

"Saya...saya baik-baik saja." Hanya kata-kata itu yang sanggup dia katakan kepada Hismar.
"Syukurlah. Jadi kami yang di Jakarta bisa lega," bilang Hismar di seberang sana. Haruka diam, bingung bagaimana harus menanggapi pernyataan Hismar. "Haru...boleh Kakak bertanya?"
"Ehm...silakan, Kak." Di dalam hatinya, berdegub dengan hebat. Menantikan apa yang ingin ditanyakan Hismar kepadanya. Terdengar helaan napas yang berat dari seberang. "Haru sudah mantap dengan keputusan untuk tinggal di Jepang?" "Ehm…iya." "Sudah siap dengan segala resikonya?" "Uhm…mudah-mudahan."

Entah mengapa, Haruka mulai merasa bimbang dengan keputusan yang baru saja dibuatnya.
Tadi, disaat sedang bersama Ichiro, semua terasa mudah diputuskan olehnya. Tetapi sekarang, mendengar suara Hismar yang tenang, tidak menuntut, dan begitu penuh perhatian, Haruka mengalami kegoyahan. "Kalau memang sudah mantap, Haru harus cepat-cepat mengurus segala sesuatunya." Gadis itu menyibakkan rambutnya ke belakang, mengernyitkan dahinya. Dia tidak mengerti arah pembicaraan Hismar.

"Maksudnya?" "Ya, Haru ke Jepang dengan visa kunjungan budaya dan wisata, kan? Padahal Haru akan menetap di Jepang, berarti perlu visa kerja dan visa menetap sementara."
Haruka tersentak. Bukan dengan isi pernyataan Hismar, tetapi lebih pada perhatian laki-laki itu tentang nasibnya di sini. "Ya, mungkin besok-besok Haru akan mengurusnya. Mungkin sesudah ke agen tenaga kerja," jawab Haruka. "Apakah bisa ke agen tenaga kerja tanpa visa kerja?" Kali ini hati Haruka meradang. Pertanyaan Hismar dianggapnya seperti menyepelekan dirinya dan Ichiro. "Ichi-Chan bisa menguruskan itu untuk saya, Kak," jawab gadis itu dengan nada keras. "Lagipula, apa yang saya putuskan pasti sudah saya pikirkan.”

Hismar seperti tersadar kalau ucapannya tadi menyinggung hati Haruka. "Maaf, Kakak tidak bermaksud mematahkan semangat Haru. Tetapi berjaga-jaga kan perlu, apalagi ini Haru tinggal di negeri orang.” Haruka menghela napas. Dia sama sekali tidak menyangka begitu perhatiannya Hismar kepadanya. Tetapi dari dulu memang dia selalu penuh perhatian dan tidak pernah mengecewakanku, ucap Haruka dalam hati. "Haru, ada yang bisa Kakak bantu? Mungkin mengurus surat-surat yang Haru perlukan untuk menetap di Jepang? Atau butuh referensi untuk mencari kerja di Jepang?" Lagi-lagi Haruka tidak bisa berkata apa-apa. Ucapan-ucapan Hismar tidak ada satupun yang bernada memaki atau marah karena kepergiannya.

Bahkan kini pun dia tetap menawarkan bantuan untukku, ucap Haruka dalam hatinya. Padahal aku sudah meninggalkannya, membiarkan dia membatalkan semua rencana pernikahannya denganku, ucap Haruka dalam hati, sendu. "Haru bisa mengurusnya sendiri, Kak," jawab Haruka menolak uluran bantuan yang ditawarkan oleh Hismar. Hatinya tidak enak, karena dianggapnya Hismar terlalu baik kepadanya. "Baiklah. Jika butuh bantuan, Haru tahu cara menghubungi Kakak. Semampunya, Kakak akan membantu Haru," janji Hismar kepadanya.

"Ya, Kak." "Jaga dirimu Haruka. Bagaimana pun hidup sendiri di negeri orang lebih butuh kosentrasi tinggi," ucap Hismar mengakhiri pembicaraannya dengan Haruka. Haruka menutup teleponnya. Sebagian hatinya entah terbang kemana. Sebagian tubuhnya terasa lunglai. Sambil menggapai pinggiran tempat tidurnya, dia berjalan tertatih-tatih menuju sofa di sebelah tempat tidur. Hismar, laki-laki yang tidak pernah diijinkan olehnya untuk masuk ke dalam hatinya, bahkan bisa berlega hati menelponnya hanya untuk menanyakan kabarnya. Sedikitpun tidak ada kata-kata kemarahan dan makian dari bibir laki-laki itu. Hari Haruka semakin galau. Mulai merasakan jika keputusan yang diambilnya sore tadi tidak adil untuk semua orang yang menyayanginya di Jakarta.

**************

Di Kantor Agen Tenaga Kerja, Haruka tidak mendapatkan kabar yang menggembirakan. "Maaf, tanpa referensi kerja dan tanpa visa kerja, saya tidak berani ambil resiko mencarikan pekerjaan yang cocok untuk anda, Miss." Haruka menghela napas. Ini agen keempat yang sudah dimasukinya, dan semua jawabannya sama. Tidak ada referensi, tidak ada visa, berarti tidak ada pekerjaan untuknya. “Saya bisa menjamin bahwa Miss Mosii bisa bekerja dengan baik,” itu yang selalu keluar dari bibir Ichiro untuk membelanya.

"Tidak bisa, kami tidak berani. Karena jika ada masalah di tempat kerjanya, kami juga terlibat," jawab orang dari agen tenaga kerja tegas. Mereka berdua pun keluar dari kantor itu dengan lesu. Haruka merasa masalah mulai datang menghampiri keputusannya ini. Keputusan untuk tinggal di Jepang ternyata tidak seindah yang dia bayangkan. “Kita minum dulu yuk, Haru-Chan.” Haruka mengangguk, tanpa semangat. Tenaga dan semua semangatnya menguap begitu saja. Bayangannya semula, bahwa semua masalah yang dia yakini akan teratasi dengan mudah dengan cinta, kini berubah seperti begitu membebaninya.

Semua yang begitu mudah dia dapat di Jakarta, kini begitu sulit digapainya di tanah Jepang. Negara di mana dia harapkan akan memudahkan perjalanan cintanya dengan laki-laki Jepang yang dia cintai. Ichiro bukan tidak melihat kesusahan yang tergambar jelas di bola mata kekasihnya. Tetapi dia pun tidak dapat berbuat apa-apa. Di sisi lain, dia merasa harus tetap memberikan semangat kepada Haruka. “Semuanya pasti akan baik-baik saja.”
Haruka menoleh ke arah Ichiro. Dia tahu, laki-laki itu pun sama cemasnya, seperti dirinya. Tetapi kekasihnya itu berusaha menghiburnya. Haruka tersenyum, merasa terharu dengan sikap kekasihnya itu. “Kau yakin?” Ichiro tersenyum. Dan seraya menuntun Haruka menuju kursi di di kedai kopi yang baru saja mereka masuki.

“Kau tahu, Haru-Chan, cinta kita akan menyelesaikan segalanya.” “Ya.” Rasa optimis yang memancar dari diri Ichiro, menular kepada Haruka. Gadis itu yakin, cinta mereka akan mengalahkan semua rintangan yang kini terasa berat di depannya. Pelayan datang menghampiri mereka. “Dua Capucinno.” Pelayan itu mengangguk, kemudian meninggalkan mereka kembali.
“Besok coba kita urus visa Haru-Chan. Lalu kembali mencari pekerjaan buat mu.” Haruka mengangguk, mengiyakan ucapan Ichiro. “Urus visa itu pasti tidak sulit.” Nada suara Ichiro begitu optimis. Membuat Haruka begitu percaya.

“Semuanya akan baik-baik saja. Aku janji,” Ichiro menepuk punggung tangan Haruka dengan sayang. Keduanya saling melempar senyum. Dan kemudian pelayan kembali lagi. Kali ini sambil membawa pesanan Capucinno mereka. “Arigato,” ucap Ichiro kepada pelayan yang membungkuk kepada mereka. Lalu meninggalkan mereka berdua kembali, untuk melayani tamu lain. Lalu keduanya terdiam, menikmati Capucinno. Tetapi di dalam hati mereka, keduanya yakin akan kekuatan cinta mereka. “Kita akan selalu bersama kan, Ichi-Chan?” “Pasti.”

Dan ucapan Ichiro yang penuh dengan janji, kembali mendamaikan hatinya yang begitu galau pada awalnya. Haruka yakin, seiring dengan waktu, kekuatan cinta mereka mampu mengalahkan segalanya.

*******

Sayangnya, tidak semua impian menjadi kenyataan. Tidak semua yang kita inginkan terkabul. Istilah, manusia merencanakan, Tuhan yang menentukan, benar-benar terjadi dalam diri Haruka. Mengurus Visa ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sesampainya di Kedutaan Besar Republik Indonesia, Haruka dan Ichiro harus merasakan berbelit-belitnya sebuah birokrasi. “Maaf, untuk mengganti Visa kunjungan budaya menjadi Visa ijin kerja, harus melalui beberapa persyaratan.” Begitu kata salah satu petugas di Kedutaan. “Kami bisa memenuhinya,” jawab Haruka yakin. Lalu menatap Ichiro, dan keduanya saling melempar senyum. “Paling tidak, harus ada surat referensi dari Agen Tenaga kerja di sini, bahwa anda sedang mencari pekerjaan.”

“Itu tidak mungkin. Kata mereka, harus ada visa ijin kerja dahulu untuk mencari pekerjaan di sini,” bantah Haruka. Dia mengingat dengan jelas semua perkataan Agen Tenaga Kerja yang dia temui. Petugas kedutaan itu menghela napas. Menatap iba kepada Haruka. “Atau anda bisa meminta surat referensi dari tempat kerja anda yang di Jakarta. Sehingga lebih mudah buat anda untuk mendapatkan visa kerja dan juga ijin kerja di sini,” Petugas itu memberi usul yang lain. “Apa bisa begitu?” Petugas itu mengangguk, mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh Haruka. “Kalau begitu, terima kasih.”

Haruka kemudian menjabat tangan petugas Kedutaan itu. Dan sambil menggandeng tangan Ichiro, dia berpamitan. “Apa katanya?” Haruka menatap Ichiro, menghela napas panjang. Sambil meneruskan jalan, dia menceritakan apa saja yang disampaikan oleh petugas Kedutaan tadi. “Jadi Haru-Chan harus mendapatkan surat referensi dari kantor yang dulu?” Haruka mengangguk. “Bisa, kan?” “Ya, sekarang harus aku urus. Ichi-Chan mau membantu, kan?”
Ichiro mengangguk, mengiyakan.

“Sekarang aku harus mengurusnya. Mumpung masih jam kantor,” Haruka melirik jam tangannya. Jam sepuluh pagi, di Jakarta mungkin masih jam dua belas siang. Biasanya semua masih sibuk dengan pekerjaannya. “Ke apartemenku saja, Haru-Chan bisa menelpon kantor dari sana,” usul Ichiro. Haruka mengangguk. Di samping terlalu lama jika harus kembali ke Hotel, dia juga ingin melihat apartemen Ichiro yang belum pernah dikunjunginya sejak datang lagi ke Jepang ini. “Baiklah.” Lalu keduanya bergegas menuju apartemen Ichiro yang terletak di Ginza.
Sepanjang perjalanan mereka ke apartemen Ichiro, tak putus-putus Haruka berdo’a semoga dimudahkan oleh Tuhan. “Irasshaimase!” seru Ichiro, begitu mereka berdua masuk ke dalam apartemennya. Haruka memandang ke seluruh apartemen Ichiro dengan terpesona. Suasana apartemen ini sama dengan gambaran yang ditampilkan di dorama Jepang yang sering dia tonton di Indonesia. Terdiri dari satu ruangan yang menyatukan dapur dan ruang duduk Tempat tidur diletakkan meyudut. Dan kamar mandi yang pintunya menghadap pintu masuk apartemen.

“Teleponnya ada di sana. Pakailah, sementara aku mau membuat minuman.” Ichiro menujuk satu set telepon yang terletak di sebelah tempat tidur, sebelum dia ke dapur untuk menjerang air. Sambil terus berdo’a, Haruka memakai telepon itu. Tetapi sepertinya, keberuntungan masih jauh menghampiri Haruka. Meminta surat referensi, ternyata tidak semudah yang dia pikirkan. “Sejak kapan mengundurkan diri secara resmi itu bisa melalui telepon?” Tanya Pak Wirya, bossnya, dengan nada tajam. “Ini mendesak, Pak. Saya tidak sedang di Jakarta saat ini,” jawab Haruka dengan nada bergetar. “Saya tahu. Anda sedang mengambil cuti selama dua minggu, kan?” “Ya, Pak.” “Kalau anda memang ingin mengundurkan diri, kembali dulu ke Jakarta, buat surat pengunduran diri beserta alasannya, dan ajukan kepada saya secara baik-baik.” Kembali ke Jakarta? Itu sama saja dengan bunuh diri.

“Tidak bisa dengan cara lain, Pak?” “Dulu saat pertama kali anda bergabung dengan perusahaan ini, anda mengajukan surat lamaran secara baik-baik, menandatangani kontrak kerja anda, dan ada perjanjian-perjanjian yang sudah kita sepakati. Kini, jika anda ingin memutuskan perjanjian kerja, kita harus sama-sama berhadapan, anda harus mengajukan surat pengunduran diri anda dan bertemu saya langsung.” Ucapan bossnya yang panjang lebar, membuat Haruka bertambah tidak enak hatinya. “Baik, Pak. Nanti saya akan datang ke kantor secepatnya.” “Saya tunggu.” Haruka meletakkan telepon dengan lesu. Kembali ke Jakarta adalah hal terakhir yang dia inginkan. Dengan kepergiaannya ke Jepang, Papa pasti kecewa dengannya. Dan melihat wajah kecewa Papa, bukanlah hal yang dia inginkan.


--------------------------------------------------------------------------------

(Bagian V)


“Bagaimana Haru-Chan?” Pertanyaan Ichiro mengagetkannya. Dengan sedikit bingung, Haruka berpaling kepada kekasihnya itu. “Aku harus kembali ke Jakarta untuk mengurus semuanya.”
Ichiro berjalan ke arah Haruka sambil membawa dua cangkir minuman itu. Satu cangkir disodorkan kepada Haruka, satu lagi di letakkan di meja di samping tempat tidur. “Mengapa harus ke Jakarta?’ Tanya Ichiro sambil mengernyitkan kening. “Karena aku harus mengajukan sendiri surat pengunduran diriku.” Sambil menjawab, Haruka menyesap minumannya pelan-pelan. “Tidak bisa lewat e-mail atau fax?”

Haruka menggeleng. “Aku harus menandatangani surat pemutusan perjanjian kerja juga, Ichi-Chan.” “Mengapa keluar kerja jadi begitu rumit?” Haruka hanya mengangkat bahu. Dia sendiri saat ini sedang buntu pikirannya. Tidak mungkin kembali ke Indonesia tanpa bertemu Papa. Kalau sampai bertemu Papa, kali ini pasti pemaksaan beliau untuk menikahkan Haruka dengan Hismar akan bertambah kuat. Kecual ada hal yang menghalaginya. Haruka berpaling kepada Ichiro. “Ichi-Chan, bagaimana jika ikut ke Indonesia?”

Wajah Haruka berseri-seri saat mengajukan usul itu. Dia yakin, Papa tidak akan bertindak macam-macam jika ada Ichiro disampingnya. Tentu beliau tidak ingin persaahabatannya dengan keluarga Hayamashi putus gara-gara bertindak tidak baik kepada Ichiro. “Aku?” Tanya Ichiro tidak percaya. Haruka menangguk. Wajahnya berseri-seri, yakin Ichiro akan senang dengan usul ini. “Tidak mungkin.” Hati Haruka langsung mencelos. Ichiro dengan cepat menolak usulnya. “Tetapi…mengapa?” Tanya Haruka linglung. “Di kantor tidak semudah itu minta cuti. Minimal, harus mengajukan ijin cuti sebulan atau dua bulan sebelumnya.”

“Benarkah?” Tanya Haruka, yang diikuti oleh anggukan kepala Ichiro. “Tidak bisakah Haru-Chan mengundurkan diri dari sini?” Haruka menggeleng. “Aku sudah bilang, harus menandatangani surat pemutusan hubungan kerja di kantor.” Ichiro terdiam. “Tetapi aku tidak mau kembali ke Jakarta sendiri.” “Kalau begitu, Haru-Chan jangan ke Jakarta.”
“Bagaimana dengan surat referensi yang aku butuhkan itu? Surat referensi tidak keluar jika aku tidak memberikan surat pengunduran diri.” Ichiro tidak menjawab apa-apa.

“Padahal tanpa referensi itu, akan susah mendapatkan Visa ijin kerja dan juga pekerjaan di sini.” "Tidak apa-apa jika Haru-Chan tidak dapat pekerjaan. Aku masih bisa membiayai hidup Haru-Chan di sini," kata-kata Ichiro terlontar begitu saja. Haruka menatap Ichiro, seperti tidak mengerti dengan jalan pikiran laki-laki itu. "Ichi-Chan, ini bukan masalah uang semata. Tetapi apa enaknya tinggal di sini tanpa pekerjaan? Apa kata Obasan dan Ojisan?" Haruka mencoba membantah pemikiran Ichiro. Ichiro menatap Haruka.

"Haru-Chan nantinya juga akan menikah denganku. Jadi tidak perlu bekerja, kan?" Itu bukan pertanyaan, tetapi lebih pada penekanan sikap Ichiro. Dan Haruka lupa, di Jepang masih ada tradisi bahwa perempuan yang sudah menikah sudah semestinya mengurus rumah saja dan tidak perlu bekerja di kantor. "Apakah...seperti itu yang Ichi-Chan inginkan?" tanya Haruka dengan nada ragu. Dan hati Haruka langsung lemas begitu melihat Ichiro mengangguk mantap.
"Begitu kita menikah, Haru-Chan harus tinggal di rumah dan mengurusnya, kita segera mencari rumah untuk keluarga kita." Sesaat, Haruka mulai menganalisa keadaan ini.

“Dan aku terus mengurus rumah, mengurus anak-anak kami, menunggu suami yang pulang sampai larut malam sambil mabuk, karena pasti pulang ke kantor mampir ke Bar untuk minum-minum bersama-sama teman sekantornya. Dan kemudian aku harus diam setiap dia marah-marah dan tidak ingin didekati. Dan rumah tangga kami hambar, karena suamiku lebih suka menghabiskan waktunya dengan Geisha bersama dengan teman-teman sekantornya,” pikiran-pikiran itu muncul dan berkembang di kepala Haruka, dan terlontar keluar dari bibirnya begitu saja.

Dia sadar, seperti itulah yang sering terjadi di Jepang. “Seperti itulah seharusnya kehidupan rumah tangga. Istri bertanggung jawab atas rumah dan isinya, suami bertanggung jawab untuk menafkahi keluarga,” jawab ichiro mantap. “Dan istri tidak berhak untuk bekerja dan membantu suami mencari penghasilan tambahan?” Tanya Haruka tidak percaya.
“Suami yang punya kewajiban itu. Sedangkan istri punya kewajiban atas harta dan anak dari suami.” “Jadi sekarang aku tidak perlu bekerja?” bola mata Haruka membelalak. Seakan dia tak percaya dengan semua perkataan Ichiro. Ichiro tetap mengangguk.

“Buat apa bekerja, kalau sampai harus bersusah payah ke Jakarta mengantar Haru-Chan mengambil referensi. Lebih baik tidak usah bekerja sama sekali, kan?” “Kenapa Ichi-Chan jadi seegois ini?” keluh Haruka. “Perempuan harus menuruti apa kata laki-laki. Apalagi Haru-Chan nanti akan jadi istriku.” “Aku kembali ke Hotel saja.” Haruka berdiri, bermaksud keluar dari apartemen ini. Rasa sesak sudah memenuhi rongga dadanya. “Aku antarkan.”

“Tidak usah. Aku tidak ingin diantar oleh orang yang begitu egois.” Dan Haruka pun berlari, keluar dari apartemen Ichiro. Hatinya menangis, tidak disangkanya laki-laki yang dia cintai begitu egosinya. Lagi-lagi, dia merasa bahwa keputusan yang dia ambil tidak tepat.

*********

Akan tetapi, lagi-lagi Haruka merasa mendapatkan pertolongan dari Tuhan. Begitu dia kembali ke Hotel dan siap-siap berkemas untuk kembali ke Jakarta, Ichiro datang. “Ichi-Chan!” seru Haruka sambil mempersilakan laki-laki itu untuk masuk. “Aku akan antarkan Haru-Chan ke Jakarta.” Bola mata Haruka terbelalak. Kali ini karena girang dan rasa bahagia.
“Benarkah?” Ichiro mengangguk mantap. “Lalu, bagaimana dengan pengajuan cutinya?”
“Asal Haru-Chan mau bersabar. Kita bisa berangkat ke Jakarta minggu depan.” “Baiklah!” seru Haruka dengan riang. Dia sudah tidak peduli lagi, jika seandainya keberangkatan mereka ke Jakarta ditunda lagi sampai seminggu.

Yang dia rasakan saat ini, adalah rasa bahagianya melihat kesiapan Ichiro mendampinginya di Jakarta. “Obasan dan Ojisan setuju?” Ichiro mengangguk. “Kata mereka berdua, itu terserah kita berdua.” Haruka mengangguk dengan bahagia. Dan di sinilah Haruka dan Ichiro sekarang. Mereka berdiri di depan terminal keberangkatan luar negeri di Bandara Narita, Chiba. Dengan ditemani Bibi Asae dan Paman Sagota. "Haru-Chan, Ichi-San, kami minta maaf tidak bisa mengantarkan kalian ke Jakarta," Bibi Asae memintakan maaf kepada mereka.

"Kami ada urusan yang tidak bisa ditinggal," Paman Sagota menimpali ucapan Bibi Asae.
Haruka tersenyum maklum kepada mereka berdua. “Tidak apa-apa Otoosan, Okasan. Kami hanya meminta do’a kalian,” jawab Ichiro dengan bijak. Bibi Asae memeluk Haruka dengan sayang. “Sampaikan salam Obasan kepada mamamu.” Haruka mengangguk hormat kepada perempuan tua yang dikasihinya, sama seperti dia mengasihi mamanya. Terdengar pengumuman tentang keberangkatan pesawat mereka. “Selamat jalan. Do’a kami bersamamu,” bisik Bibi Asae kepada Haruka. “Baik-baik jaga Haru-Chan,” kata Paman Sagota menasehati putranya.

Ichiro mengangguk mantap. Digandengnya tangan Haruka, kemudian bersama-sama menuju ke terminal keberangkatan. Sebagian hati Haruka seperti melayang. Ke Jakarta dengan orang yang kucintai, bisik hati Haruka dengan riang. “Kita berangkat,” bisik Ichiro, menoleh ke arah Haruka dengan mantap. “Yang terjadi, biarlah terjadi,” balas Haruka. Keduanya saling melempar senyum. Perlahan-lahan, bayangan mereka makin menjauh dari pandangan pasangan Hayamashi. “Semoga Tuhan melindungi mereka,” ucap Hayamashi Sagota, lirih.

“Amin,” timpal istrinya. Air mata mereka menetes satu persatu. Mereka tahu, apa yang akan dihadapi oleh pasangan ini sesampainya di Jakarta. Di dalam pesawat, sesaat sebelum keberangkatan. Keduanya masih saling bergenggaman tangan senyum masih terukir di bibir mereka. “Papa pasti kaget sekali melihat Ichi-Chan yang sudah dewasa dan tampan seperti ini,” kata Haruka dengan bahagia. “Semoga Ojisan menerimaku dengan baik,” harap Ichiro.
“Dan menerima serta merestui hubungan kita,” kata Haruka menyambung do’a Ichiro. “Ya,” angguk Ichiro dengan mantap. “Kalau kita sudah direstui Papa, pasti hubungan kita akan baik-baik saja,” cetus Haruka bahagia campur cemas.

“Dan Haru-Chan akan ke Jepang lagi tanpa harus khawatir.” “Atau Ichi-Chan bisa tinggal di Jakarta,” cetus Haruka tiba-tiba. “Ah, istri yang harus ikut suami,” jawab Ichiro sambil tetap menyunggingkan senyum. “Iya, aku lupa,” balas Haruka sambil tertawa. “Tetapi, kalau Papa merestui, kita bisa mengunjungi mereka sesering yang kita ingin, kan?” Tanya Haruka lagi. “Ya. Dan tergantung cuti yang aku dapat.” “Oh iya,” cetus Haruka dengan nada lirih.
“Kenapa?” Ichiro memandang Haruka sambil mengernyitkan keningnya. “Ada yang dipikirkan?”
“Hanya membayangkan berpisah bertahun-tahun dengan Mama dan Papa, setelah sekian tahun tidak pernah meninggalkan mereka dalam waktu yang lama.”

“Haru-Chan bisa melakukannya. Buktinya kemarin bisa meninggalkan Jakarta,” ucap Ichiro dengan mantap. “Iya.” Lalu keduanya, lagi-lagi saling melempar senyum. Seolah keduanya lupa, bahwa sesampainya di Jakarta akan ada halangan terbesar yang mengganggu hubungan mereka.

*********

Hasyim Mosii adalah halangan terbesar mereka. “Haru?” Michiko berlari, kemudian memeluk Haruka dengan kerinduan yang begitu besar. Haruka pun membalas pelukan mamanya dengan erat. “Ma, ini Ichi-Chan,” Haruka menoleh ke arah Ichiro, setelah lama memeluk Michiko dengan erat. Perempuan itu menoleh, memandang laki-laki yang ada di sebelah putri semata wayangnya. “Ichi-San. Apa kabar?” sapa Michiko dengan ramah. “Baik Obasan. Kami sehat, begitu juga dengan kedua orangtua saya,” jawab Ichiro dengan tenangnya.

“Sebaiknya kalian masuk. Pasti kalian lelah. Ayo,” ajak Michiko kepada keduanya. Tetapi dia lebih sibuk menuntun dan memeluk Haruka yang begitu dirindukannya. “Papa.” Sementara, seperti sudah diatur sebelumnya, Hasyim Mosii sudah berdiri di lantai dua, di ujung tangga. Pandangan matanya tajam, memandang Ichiro.
--------------------------------------------------------------------------------

Bagian VI

“Haruka.” Haruka merasakan hatinya dingin seketika. Tatapan terluka papanya tidak bisa lagi ditutupi dari kedua telaga bening miliknya. Wajah yang begitu dingin, dan terluka.
“Papa,” Haruka menghampiri papanya, kemudian mencium kedua pipi beliau dengan kaku. Papa membalasnya dengan mengelus kepala anak kesayangannya itu. Tetapi, sejurus kemudian, tatapannya beralih kepada Ichiro. “Kau pasti Ichiro.” Ichiro mengangguk takzim. “Dulu Ojisan memanggil saya Ichi-Kun.” “Sekarang kau sudah dewasa. Aku lebih pantas memanggilmu Ichi-San.” Kalau saja boleh, Haruka ingin sekali tidak berada dalam situasi yang begitu dingin dan kaku seperti ini. Hilang sudah sikap hangat dan begitu penyayang dari papanya, yang dulu begitu dikagumi oleh Haruka.

Sebenarnya Papa sudah berubah semenjak aku terang-terangan menolak dijodohkan dengan Kak Hismar, bisik hari Haruka. “Ojisan boleh memanggilku seperti dulu.” Hasyim Mosii hanya mengangguk, tanpa mengucapkan sepatah katapun. “Sudah-sudah. Pembicaraannya dilanjutkan nanti saja. Sekarang biar Haruka dan Ichiro istirahat dulu,” mamanya, yang sedari tadi hanya diam, sekarang buka suara dan mencoba menyelamatkan situasi yang tidak mengenakkan ini. “Karena kami tidak tahu kedatangan kalian, kami belum menyiapkan kamar untuk Ichi-San,” suara Papa masih begitu dingin. Haruka sudah tidak mampu lagi menggerakkan bibirnya hanya sekedar untuk menetralisir keadaan.

“Saya bisa menginap di Hotel, kalau keberadaan saya mengganggu keluarga ini,” jawab Ichiro dengan tegas. Haruka memandang Ichiro dengan kesal. Nada suara Ichiro yang begitu angkuh tidak akan membuat hati Papa melunak. “Ichiro bisa tidur di kamar tamu. Sebentar Obasan akan meminta pembantu membereskannya,” sahut Michiko dengan cepat. “Terima kasih.”
Lagi-lagi Haruka hanya bisa menahan jengkelnya, Ichiro tidak juga menampakkan wajah yang bersahabat. Ini akan memperpanjang masalah, bisik hati Haruka. “Terima kasih, Ma,” bisik Haruka, saat Michiko berjalan melewatinya. Michiko tersenyum sambil mengedipkan mata ke arah Haruka. “Nevermind.” Sepeninggalan Michiko, suasana kembali hening.

Papa duduk dengan tenang di sofa, tanpa bermaksud menawari apapun kepada Haruka maupun Ichiro. “Duduk, Ichi-Chan.” Ichiro mengangguk. Dengan kaku, dia duduk di hadapan Papa. Haruka sendiri duduk di sebelah Ichiro, mencoba memberi isyarat kepada beliau, bahwa mereka tidak mungkin terpisahkan. “Seharusnya Haru memanggil Ichi-San, kalian sudah sama-sama dewasa,” tegur Papa. “Tidak apa-apa. Kami kan dekat seperti saudara, tidak apa-apa memanggilnya seperti itu,” kata Ichiro, mencoba membela Haruka.

Haruka tersenyum ke arah Ichiro, mencoba menenangkan hati laki-laki yang dia sayangi itu.
“Kalau sudah seperti saudara, seharusnya tidak ada niatan untuk menikahinya,” tegur Papa dengan tajam, dan tepat. Wajah Ichiro dan Haruka sama-sama pias. Ternyata Papa masih tetap bermaksud menolak cinta Haruka dan Ichiro. “Ada baiknya kau telepon Hismar, Haru. Dia perlu tahu kau sudah datang,” Papa melanjutkan ucapannya, tanpa merasa jengah bahwa ucapannya tadi itu melukai perasaan Haruka dan Ichiro. “Buat apa, Pa?” tanya Haruka dengan dingin. “Dia masih calon suamimu. Dan pernikahan kalian tidak dibatalkan sama sekali,” jawab Papa tenang. Haruka langsung berdiri. Wajahnya kali ini merah padam menahan marah. Ichiro sendiri kali ini hanya diam, memandang Haruka dan papanya dengan berganti-ganti. Ketika mengucapkan nama Hismar, Hasyim Mosii lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia ketika berbicara. Ichiro sama sekali tidak memahaminya.

“Pa! Harusnya Papa paham! Haru pergi dari Jakarta karena tidak ingin ada pernikahan itu!”
Papa hanya diam. Tidak berusaha untuk menjawab protes dari Haruka. Bahkan dia memandang Ichiro dengan tenang. “Kau tahu Ichi-San, bahwa Haruka sudah akan menikah bulan depan dengan laki-laki lain?” Ichiro memandang Hasyim dengan tenang. Dia hanya menyunggingkan senyum kecil, seolah keterangan laki-laki itu tidak berpengaruh untuk dirinya. “Pa!” Haruka masih mencoba protes kepada papanya. “Tidak apa Haru-Chan. Aku tidak terpengaruh ucapan papamu, karena aku tahu kau mencintaiku. Bukan laki-laki itu,” potong Ichiro dengan tenang. Haruka memandang Ichiro dengan tersenyum. Ucapan laki-laki yang dicintainya itu sangat menenangkan hatinya.

“Tetapi itu sudah menjadi keputusan keluarga kami,” bantah Hasyim tidak terima.
“Bagaimana dengan keputusan Haru-Chan? Dia yang akan menikah, bukan? Dan dengan dia pergi ke Jepang, kita sudah tahu siapa yang dipilihnya,” balas Ichiro dengan nada suara yang terkesan angkuh. Sesaat, Haruka tercengang dengan ucapan Ichiro. “Sombong sekali kau, Ichi-San. Tidak kusangka anak gadisku memilih laki-laki yang begitu sombong seperti dirimu,” suara Hasyim begitu berat, dan seperti ingin marah. “Kamar Ichi-San sudah siap! Sebaiknya kalian istirahat dahulu, setelah itu baru kita melepas kangen.”

Tepat waktu! Michiko datang disaat yang tepat. Haruka menghela napas lega. Mungkin Ichi-San masih lelah, sehingga bicaranya begitu spontan, ucap Haruka dalam hati, mencoba memaklumi keadaan kekasihnya. “Nah, Ichi-San istirahat dulu. Biar Obasan antar. Dan Haru, istirahat di kamar dulu, Nak,” ucap Michiko penuh kasih, seraya membantu Ichiro mengangkat barang-barangnya, menuju kamar yang diperuntukkannya. “Ya, Ma.” Segera Haruka mengangkat semua barangnya, bermaksud pergi ke kamarnya. Sementara Ichiro sudah pergi dengan diantar mamanya. “Pa, Haru istirahat dulu.” Hasyim hanya mengangguk saat Haruka berpamitan. Sama sekali laki-laki separuh baya itu bermaksud untuk menjawabnya.

******

Malamnya, saat Haruka dan ichiro sudah melepas lelah, ada kejutan lain yang sangat tidak mengenakkan bagi keduanya. Saat itu, Haruka dan Ichiro sedang makan malam bersama Hasyim dan Michiko. “Selamat malam semuanya.” Haruka hampir tersedak begitu mendengar suara yang menyapa mereka. “Oh, Hismar. Kau datang di saat yang tepat! Duduklah! Makan bersama kami,” sambutan Hasyim begitu berlebihan. Itu yang dirasakan oleh Haruka. “Saya sudah makan malam, Om. Sebaiknya saya tunggu saja di ruang tengah,” tolak Hismar halus.

“Tidak apa-apa. Makanlah sedikit saja,” Hasyim begitu memaksa. Haruka langsung kehilangan selera makan. Ichiro tidak banyak tahu apa yang diobrolkan oleh Hasyim dan Hismar. Tetapi dia merasa perlu mewaspadai kehadiran laki-laki yang begitu disambut dengan hangat oleh beliau. “Biar Tante ambilkan piring,” sela Michiko sambil berdiri dan beranjak masuk ke dapur. “Duduklah,” Hasyim masih terlihat begitu bersemangat menyambut kedatangan Hismar.
“Terima kasih, Om.” Hismar langsung duduk, dan tepat di sebelah kiri Haruka yang kebetulan kosong. Wajah gadis cantik itu semakin merah padam.

“Apa kabar, Haru,” sapa Hismar halus. “Baik,” jawab Haruka pendek. “Oh ya, Mar. Kenalkan, itu Ichiro, kerabat Tante dari Jepang.” “Kekasih saya,” ucap Haruka, menimpali ucapan papanya. Mencoba menegaskan kepada Hismar tentang apa yang terjadi. Tetapi wajah Hismar sama sekali tidak menampakkan perubahan. Dia tetap tersenyum ramah, bahkan berdiri untuk menyalami Ichiro. “Halo Ichiro-San. Irrashaimasen. Pertama kali ke Indonesia, kan?”
Ichiro menyambut salam itu dengan kaku. Bahkan tidak berdiri, seperti cara Hismar menyambutnya. Haruka lagi-lagi harus menelan ludah dengan sikap kaku Ichiro.

Tetapi Hismar sama sekali tidak terganggu dengan sikap Ichiro. Laki-laki itu hanya tersenyum dan duduk kembali. “Bagaimana penerbangannya? Kenapa tidak telepon kalau akan ke Jakarta? Kan bisa kujemput.” Lagi-lagi Haruka hanya bisa terperangah. Bahkan dia tidak tahu harus menjawab bagaimana. “Kami mendadak pergi ke Jakarta. Kalau bukan karena Haru-Chan butuh referensi dari tempat kerjanya, pasti kami tidak akan kemari.” Suara Ichiro yang begitu angkuh dan dingin, menyentak hati Haruka. “Maksudnya? Haruka?” Hasyim menoleh ke arah Haruka. Padangan matanya tajam.

Haruka benar-benar bingung harus menjawab apa. Dia belum mengatakan apapun alasan mereka datang ke Jakarta. Sebenarnya, dia ingin Hasyim benar-benar menyetujui hubungan cintanya dengan Ichiro, baru kemudian menyatakan keputusannya untuk benar-benar pindah ke Jepang.
“Haruka?” Pertanyaan Hasyim yang selanjutnya terpotong dengan kehadiran Michiko dari dapur sambil membawa piring untuk Hismar. “Nah, Hismar makan sama-sama ya.” “Terima kasih Tante,” jawab Hismar sambil menerima piring pemberian Michiko. Michiko terseyum, sebagai balasan atas ucapan terima kasih dari Hismar. Sementara, Hasyim masih belum mau melepaskan pandangannya dari Haruka. “Haruka, Papa butuh jawabanmu.”

Haruka meletakkan sendoknya di dalam piring, kemudian menjauhkan piring itu darinya. Pandangannya kosong menatap Hasyim. “Pa, nanti saja dibicarakan. Setelah makan,” nujuk Michiko, begitu melihat air muka putrinya. Tetapi eskpresi dari wajah Hasyim tidak berubah. Kali ini, laki-laki itu tidak bisa dibujuk oleh istrinya. Dia benar-benar menunggu jawaban dari Haruka. Membuat anak gadisnya tidak dapat lagi berkelit dari tuntutan Sang Ayah. “Wah, Tante masak Ayam Rica-Rica,” tiba-tiba Hismar berkata dengan cukup keras. Dengan riang tangannya menyendok lauk itu, dan menyantapnya seperti tidak pernah bertemu makanan sekian lama.

“Enak nih, Om. Jadi ingat kampung halaman, ya,” ucap Hismar, seolah tidak menyadari ketegangan yang terjadi di meja makan itu. “Om, Oma Frida paling pinter bikin Ayam Rica-Rica dan Bubur Menado. Ingat, kan?” Hismar masih dengan santainya mengajak bicara Hasyim.
“Ya. Apa kabar Oma Frida?” “Beliau baik, Om. Masih sehat di Pare-Pare. Oma pernah tanya, kapan Om pulang kampung,” jawab Hismar sambil terus menyuap makanannya. “Wah, maunya Lebaran ini pulang ke Pare-Pare. Om juga sudah kangen dengan keluarga di sana.” “Bisa bareng dengan saya, Om.” “Wah, boleh juga usulmu.”

Akhirnya Hasyim mulai bisa sedikit melupakan niatnya untuk bertanya kepada Haruka. Gadis itu menatap Hismar dengan pandangan penuh kelegaan. Ada sedikit rasa terima kasih dengan sikap laki-laki itu. Tetapi Hasyim tidak sepenuhnya lupa dengan insiden meja makan itu. Begitu ada kesempatan, laki-laki itu mencoba bicara lagi dengan Haruka. Pada saat Haruka sedang duduk berdua di teras belakang bersama Ichiro, Hasyim mendekati mereka berdua. Hismar sendiri sedang mengobrol dengan Michiko di ruang tengah sambil nonton televisi.
Saat itu pun Haruka sedang terlibat pembicaraan yang sedikit emosional. Dia mencoba menegur sikap Ichiro dan perkataan laki-laki itu yang dianggap belum tepat.

“Harusnya Ichi-Chan bisa lebih sedikit mengalah kepada Papa.” Itu keluhan Haruka yang pertama. “Harus mengalah bagaimana? Ojisan sepertinya suka memojokkanku,” bantah Ichiro tidak terima. “Kita harus bisa mengambil hati Papa. Harusnya Ichi-Chan bisa lebih bersabar kepada beliau.” Ichiro hanya diam. Tetapi Haruka tahu, raut muka laki-laki itu menampakkan sikap hatinya yang tidak terima dengan ucapan Haruka. “Juga saat tadi makan. Seharusnya Ichi-Chan jangan dulu menyinggung masalah referensi kerja. Karena Aku belum bicara apa-apa dengan mereka.” “Sama saja toh? Cepat atau lambat mereka akan tahu.”

“Tetapi bukan saat ini.” “Kapan? Sekarang atau besok kan sama saja.” Haruka hanya menggelengkan kepalanya begitu mendengar jawaban Ichiro. Dia tidak sangka, laki-laki yang dia cintai itu makin lama makin terlihat sangat berbeda dari bayangan hatinya selama ini.
“Haruka, Papa ingin bicara.” Tepat sekali kehadiran Papa, keluh Haruka dalam hati.
“Ya, Pa.” “Apa maksudnya dengan percayataan Ichiro-San mengenai referensi kerja? Kau pulang ke Jakarta hanya untuk meninggalkan kami selamanya?” “Bukan begitu, Pa…,” Haruka mencoba meredakan ketegangan yang ada di wajah Hasyim. “Lalu apa? Apakah rasa cintamu kepada orang lain menutupi rasa cinta kita sebagai orang tua dan anak?”

“Ojisan seharusnya bisa mengerti, bahwa Haru-Chan sudah dewasa dan berhak memutuskan jalan hidupnya sendiri,” tegur Ichiro dengan tajam. “Tahu apa kau tentang anakku? Sudah delapan tahun kalian berpisah, dan selama itu kalian sudah berubah. Haruka dan kau sudah bukan remaja lagi,” balas Hasyim dengan nada dingin. “Haru-Chan sudah bisa menentukan pilihan hidup dan cintanya. Dia sudah pergi ke Jepang, berarti dia tahu siapa yang dia cintai,” Ichiro masih tidak mau mengalah. “Sudah! “ Haruka berdiri, menatap kedua laki-laki yang sama-sama dicintainya, dan kini saling berhadapan seperti musuh.

“Tidak bisa kubayangkan. Bertahun-tahun yang lalu kalian begitu akrab dan saling sayang. Kini kalian meributkan hidupku,” desis Haruka kecewa. “Papa hanya ingin yang tebaik untukmu, Haru.” “Kau sudah dewasa, Haru-Chan. Aku hanya ingin membelamu.” Haruka menghela napas. Lalu menatap Ichiro dengan sayang. “Ichi-Chan, aku berterima kasih untuk itu. Tetapi maukah aku membicarakan ini hanya berdua dengan Papa? Ichi-Chan istirahat saja dulu,” ucap Haruka sambil membelai pipi Ichiro lembut. “Tetapi…” “Shhh…Ichi-Chan capek dan perlu tidur. Aku ingin bicara dengan Papa dan kemudian istirahat.”

Ichiro mengangguk. “Oyasuminasai.” Begitu Ichiro meninggalkan mereka berdua, Haruka menoleh ke arah Hasyim. “Papa. Papa ingin Haru bahagia?” Haruka meraih lengan papanya, kemudian menuntunnya untuk duduk di bangku rotan yang ada di teras. Mengajak laki-laki itu duduk dan berbicara. “Prioritas utama Papa adalah kebahagiaan Haru.” “Karenanya tolong Haru, Papa. Haru hanya bahagia jika bisa bersama-sama dengan Ichi-Chan.” Hasyim menghela napas. “Delapan tahun sudah kalian tidak bertemu. Tentu kalian sudah sangat berubah dan saling asing.” “Tetapi Haru mencintai Ichi-Chan, Papa. Cinta akan membuat rasa asing itu hilang.” Hasyim menyimak semua perkataan putrinya dengan berat.

“Kak Hismar memang baik, Pa. Tetapi Haru mencintai Ichi-Chan.” Hasyim masih diam, mencoba meresapi semua perkataan putri kesayangannya itu. “Tolong dukung Haru, Papa. Hanya itu yang Haru inginkan dari Papa,” pinta Haruka dengan suara lirih. Hasyim tidak dapat lagi berkata apa-apa. Lengannya meraih kepala mungil putri tunggalnya, kemudian memeluknya dengan sayang. “Papa mencintaimu. Hanya itu yang bisa Papa katakan.” Haruka meneteskan air matanya. Dia tahu, di hatinya yang paling dalam, Hasyim mulai bisa menerima keputusannya.

“Tidurlah, kau juga butuh istirahat. Papa masih ingin di sini.” Haruka menguraikan pelukan Hasyim. Mencium tangan papanya dengan lembut. “Selamat malam, Papa.” “Selamat tidur anakku.”
--------------------------------------------------------------------------------

Bagian VII

“Haruka, beri kami waktu dua minggu untuk mencari penggantimu.” Haruka terpana begitu mendengar ucapan Pak Wirya, Kepala Divisi Akutansi Dan Keuangan, yang merupakan bossnya.
“Tidak bisa dua atau tiga hari lagi, Pak?” Pak Wirya menggelengkan kepala. “Kami harus mencari penggantimu. Jabatan dan fungsi kerjamu tidak semuanya bisa menggantikan.”
“Saya rasa ada teman yang satu bagian dengan saya bisa menggantikan.” “Maaf, tidak semudah itu mendelegasikan semua pekerjaan dan jabatan anda ke sembarang orang. Kami hanya meminta waktu satu minggu saja.” “Kalau saya tidak bisa?” “Maka kami tidak bisa memberikan referensi yang anda inginkan.” “Tetapi itu hak saya.”

Pak Wirya menghela napas. “Jujur saja, Haruka. Keputusanmu untuk mengundurkan diri sangat mendadak dan tidak jelas. Kontrak kerja kita masih ada satu tahun lagi dan kami bisa menuntut anda dengan alasan melanggar kontrak. Tetapi kami paham tidak bisa menahan keinginan anda untuk keluar. Dan kami hanya meminta waktu dua minggu, dan semua masalah yang mengganjal dianggap tidak ada.” Haruka terpekur. Dia lupa bahwa masih ada satu tahun kontrak kerja lagi yang harus dijalaninya. Dan kali ini, jika dia memaksa, semua yang diidam-idamkannya akan hilang begitu saja. Maka dengan berat hati, Haruka harus mengikutinya. “Baiklah, saya akan menunggu selama dua minggu.” “Surat pengunduran dirimu saya terima. Tetapi tolong selama dua minggu ini bekerjalah seperti biasa.” Haruka hanya bisa mengangguk pasrah.

*****

“Dua minggu lagi? Masa cutiku tidak selama itu!” teriak Ichiro dengan marahnya. “Tetapi aku tidak punya pilihan lain, Ichi-Chan,” Haruka mencoba menenangkan Ichiro. “Sudahlah! Sepertinya Haru-Chan memang tidak perlu surat referensi itu.” Haruka menatap Ichiro dengan perasaan tak percaya. “Kita sudah sampai ke Jakarta. Lalu mengapa kita tidak menunggu sebentar untuk referensiku?” “Tetapi waktu dua minggu untuk menunggu terlalu lama,” kata Ichiro bersikeras. Haruka menghela napas berat. “Tak kusangka ternyata sesulit ini untuk bersatu,” gumam gadis itu kecewa.

“Sebenarnya mudah saja. Haru-Chan sekarang juga berangkat bersamaku ke Jepang dan menikah di sana. Lupakan rencana mencari kerja itu,” sanggah Ichiro dengan segera. “Setelah semua yang kita lakukan, hanya begini saja?” mata Haruka terbelalak, tidak mempercayai dengan semua yang dia dengar. “Mau bagaimana lagi?” ucap Ichiro seolah tak peduli. Haruka diam sejenak. Keningnya berkerut seperti memikirkan sesuatu. “Bagaimana kalau Ichi-Chan pulang ke Jepang dulu? Dua minggu lagi aku akan menyusul,” usul Haruka, tersenyum ke arah Ichiro.
“Dan meninggalkanmu bersama laki-laki yang bernama Hismar itu? Never,” desis Ichiro dengan nada tajam. “Percayalah kepadaku. Aku tidak mungkin berpaling kepada Kak Hismar.”

“Kemarin Haru-Chan memandang dia lama.” “Itu bukan bukti aku akan berpaling kepadanya.”
Bukan tidak mungkin besok-besok kalian akan saling menyukai.” Haruka menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar tidak mengerti dengan ucapan Ichiro yang begitu posesif kepadanya. “Lalu apa maumu, Ichi-Chan?” “Pergi secepatnyanya dari Jakarta, dengan atau tanpa referensi itu.” Setelah mengucapkan kata-kata itu, Ichiro segera pergi meninggalkan Haruka. Meninggalkan gadis itu berpikir sendiri. “Ada apa, Haru?” Haruka mendongakkan kepalanya. “Kak Hismar,” sapa Haruka pelan. Hismar hanya tersenyum.

“Wajahmu kusut. Sepertinya ada masalah.” Haruka hanya diam, perlahan-lahan, di sudut matanya mengenang air mata. “Ternyata sulit untuk memperjuangkan cinta itu,’ gumam Haruka.
“Memang sulit. Karena cinta memang perlu pengorbanan.” Haruka menghela napas. “Sudah banyak yang aku lakukan, apakah itu belum cukup?” “Dalam cinta, tidak ada kata cukup untuk pengorbanan.” Haruka menatap Hismar dengan kagum. “Mengapa orang yang kita harapkan untuk bersikap baik kepada kita justru menyakiti kita?” “Ya?”

Haruka langsung terdiam. Seperti tersadar, terlalu banyak mengungkapkan isi hatinya kepada Hismar. Mengapa orang yang tidak kita harapkan justru lebih mengerti kita? Keluh Haruka dalam hati. “Ah, tidak apa-apa.” “Haru, hanya satu yang perlu kau ingat. Bahwa cinta butuh pengorbanan dan perjuangan. Tetapi jika hanya salah satu pihak saja yang berkorban dan berjuang, itu namanya bukan cinta.” Lagi-lagi, mata bening Haruka menatap Hismar dengan keterpanaan yang tiada terkira. “Jika kau merasa nyaman, merasa bahagia, merasa damai bersama orang yang kau cintai, itulah arti sesungguhnya cinta. Tetapi jika hanya air mata dan keraguan, seharusnya kau mulai bertanya, apakah itu yang kau inginkan dalam cinta?”

Haruka masih diam, tetapi hati dan telinganya tetap menyimak semua perkataan Hismar.
“Jika kau merasa bagian dari hidupnya dan dia pun merasa bagian dari hidupmu, kau akan merasakan cinta yang sesungguhnya. Perjuangkan cinta itu bersama-sama,” Hismar tersenyum, memandang Haruka. Haruka lagi-lagi hanya terdiam, mencoba mencerna semua ucapan yang keluar dari bibir Hismar. “Maaf, aku sudah lancang memberimu nasehat,” lagi-lagi Hismar tersenyum, menatap Haruka begitu hangat. Membuat gadis itu jengah sendiri.

“Kenapa Kak Hismar begitu baik kepada saya?” “Karena berbuat baik adalah kewajiban manusia,” lagi-lagi Hismar melempar senyum hangatnya kepada Haruka. “Walaupun saya telah membatalkan perjodohan kita?” “Memang kapan kau menyetujui perjodohan kita? Dari awal kau sudah tidak mendengarkan rencana perjodohan kita. Kalau kau sudah bilang setuju kemudian membatalkannya, mungkin aku akan marah kepadamu,” jawab Hismar dengan nada yang sangat tenang. Haruka terpana, bingung harus membalas bagaimana. Semakin hari, semakin dia merasakan kebingungan akan pilihan yang diambilnya.

Hismar tertawa tanpa suara, menepuk bahu Haruka pelan. “Sudahlah, yang penting mantapkan pilihan hatimu. Jangan bimbang dengan cintamu.” Haruka menengadah, memandang Hismar yang sudah berdiri dan bersiap-siap meninggalkannya. “Maaf. Tadi aku berniat bertemu dengan Tante Michiko. Malah berbelok saat melihatmu termenung sendiri.” Haruka tersenyum mendengar ucapan Hismar. “Tante Michiko ada?” Haruka mengangguk, sebagai ganti jawaban atas pertanyaan Hismar. “Aku bertemu Tante dulu, ya. Senang bertemu denganmu,” lagi-lagi Haruka hanya mengangguk. Dan sepeninggalan Hismar, Haruka masih terdiam. Berbagai macam pikiran berkecamuk di hatinya. “Apa yang harus kuputuskan?”

*****

“Ichi-Chan, “ bisik Haruka pelan. Ichiro, yang saat itu sedang duduk diam di teras belakang, menoleh. Pandangan matanya tajam ke arah Haruka. “Mengapa semuanya harus menjadi sulit, Haru-Chan?” keluh Ichiro pedih. Haruka mendesah. Perlahan, dia duduk di sebelah Ichiro. Tangannya menggenggam tangan Ichiro perlahan. “Awalnya semua terasa indah. Ketika Ichi-Chan datang ke kamar hotelku, aku yakin kita akan bersama selamanya.” Pandangan mata keduanya menerawang. Seolah ada yang mereka cari di depan sana. “Ketika Haru-Chan datang dan mencariku, rasanya bahagia sekali.”

“Saat itu aku yakin, cinta kita akan menyatukan segala perbedaan dan kesulitan yang akan kita hadapi.” Lalu keduanya saling memandang, dan sama-sama sadar, air mata sudah merebak di pelupuk mata keduanya. “Tetapi mengapa kini semuanya jadi terasa begitu sulit?” lagi-lagi Ichiro mengeluh. “Ternyata perbedaan yang timbul diantara kita tidak juga mendapatkan titik temu. Sedang masing-masing dari kita tidak mau mengalah,” jawab Haruka sambil mendesah, berat. “Seandainya Haru-Chan bisa menuruti semua permintaanku,” lirih suara Ichiro mengatakannya. “Dan seandainya Ichi-Chan mau sedikit berkorban untuk cinta kita,” timpal Haruka seolah tidak mau mengalah.

“Haru-Chan sudah ke Jepang. Seharusnya Haru-Chan lebih mau lagi berkorban.” “Lalu mengapa bukan Ichi-Chan yang mengalah kini?” Lalu keduanya sama-sama terdiam. Tangan mereka saling bertautan, tetapi pandangan mereka menerawang ke depan, hampa. “Mungkin kita memang tidak bisa bersatu.” Keduanya menoleh dengan kaget. Ternyata, tanpa sadar keduanya mengatakan hal yang sama. Secara berbarengan, keduanya saling melepaskan genggaman tangan itu. Haruka menutup bibirnya yang sedikit terbuka karena kaget. “Ba-bagaimana mungkin?” desah Haruka.

Ichiro pun benar-bernar terpaku. Tetapi dari sana, dia seolah menyadari sesuatu. “Jangan menangis, Haru-Chan. Mungkin ini jalan yang harus kita lalui,” bisik Ichiro sambil mengusap pipi Haruka. Perlahan, tangis Haruka makin kencang. Seolah semua beban hatinya tumpah. Ichiro pun memeluk Haruka erat, seperti tidak ingin berpisah. “Aishiteru. Tetapi mungkin kita tidak ditakdirkan untuk bersatu,” bisik Haruka sambil menyusup ke dalam dada Ichiro. “Asihiteru. Bahkan jika nanti aku menemukan perempuan lain, hanya kau yang kucintai sebesar ini,” ucap Ichiro lirih.

Keduanya larut dalam hening. Seolah tidak berharap untuk berpisah. Ichiro makin mendekap Haruka dangan erat. Gadis itu pun seperti tidak mau beranjak dari pelukan Ichiro.
“Seandainya cinta kita sekuat baja,” desah Ichiro. “Jangan menyesali apa yang sudah terjadi, Ichi-Chan,” potong Haruka sambil menekankan satu jemarinya di bibir Ichiro.
“Bertemu kembali denganmu, kemudian menggali kembali cinta kita berdua, adalah kebahagiaan yang tiada taranya,” bisik Ichiro. Haruka membelai pipi Ichiro lembut.

“Kita sama-sama bahagia dengan saat-saat itu, Ichi-Chan.” “Bisakah jika kita perbaiki lagi dan mulai dari awal?” tanya Ichiro tiba-tiba. Tatapannya penuh harap kepada Haruka.
Haruka mendesah. “Sejujurnya, tawaran itu sungguh menggoda.” “Kalau begitu, bagaimana jika kita lakukan!” seru Ichiro peuh semangat. “Bagaimana caranya memulai dari awal?”
“Ya kita mulai, Haru-Chan!” “Maukah Ichi-Chan menungguku sampai dua minggu ini untuk mengurus referensi kerja?” Ichiro terdiam. Pertanyaan Haruka kembali menohok kesadarannya, mengingatkan kembali jurang perbedaan mereka.

“Maukah Ichi-Chan membiarkan aku bekerja setelah menikah nanti?” Laki-laki itu tidak bisa menjawab pertanyaan Haruka. Bibirnya seperti terkunci. “Atau bisakah Ichi-Chan tidak lagi ke Bar setiap pulang kerja?” Bibir Ichiro benar-benar terkunci. “Itu baru permintaan-permintaanku kepada Ichi-Chan. Bagaimana dengan permintaan-permintaan Ichi-Chan untukku?”
“Aishiteru, Haru-Chan.” “Aishiteru, Ichi-Chan.”

*****

Di Terminal Keberangkatan Luar negeri, Bandara Sukarno-Hatta, tiga hari kemudian. “Maafkan Haruka, dia tidak bisa mengantarmu.” Ichiro hanya tersenyum dengan perkataan Michiko. Dia benar-benar maklum kalau Haruka tidak mau mengantarnya. Jika dia dalam posisi gadis itu, akan dilakukannya hal yang sama. “Tidak apa, Obasan. Sampaikan salam saya kepada Haru-Chan nanti.” “Pasti.” Lalu keheningan melanda. Hasyim sendiri tampak begitu tenang. Mungkin karena apa yang kami putuskan melegakan hati beliau, bisik hati Ichiro dengan perih.

“Sampaikan salam Ojisan kepada Otosan dan Okasan, ya,” ucap Hasyim dengan suara yang datar. Ichiro hanya mengangguk, mengiyakan. Lalu terdengar pengumuman keberangkatan pesawat yang akan ditumpangi Ichiro. “Pesawat saya akan berangkat. Ja mata Obasan, Ojisan.” “Sayonara. Selamat jalan, Ichiro-San.” Ichiro menyalami Hasyim dan Michiko, lalu kemudian pergi menuju pesawat yang akan ditumpanginya. Di dalam pesawat, Ichiro menghempaskan badannya ke kursi yang dia pesan. Sesaat, perasaannya melayang entah kemana. Hari terakhirnya di Indonesia, bahkan Haruka pun tidak dia temukan hanya sekedar untuk mengucapkan selamat tinggal.

Sambil memandang ke arah jendela pesawat, Ichiro memasukkan tangannya ke dalam jaket. Dan sambil mengernyitkan keningnya, dia mengeluarkan selembar amplop surat yang dia yakin bukan miliknya. “Haru-Chan,” bisik Ichiro, kemudian dengan segera tangannya merobek amplop dan buru-buru membacanya. Tidak disangkanya bahwa Haruka masih sempat menulis surat untuknya.

Ichi-Chan , Maafkan aku tidak bisa mengantarmu di bandara. Aku tidak mungkin bisa melihatmu berjalan memasuki pesawat, menatap punggungmu, sedang aku tahu kau tak mungkin lagi kembali kepadaku dan merajut cinta kita.

Ichi-Chan
Terlalu besar perbedaan yang ada di depan kita, dan cinta kita tidak sanggup untuk mengatasi semuanya. Karena memang aku tidak mungkin meminta Ichi-Chan untuk berkorban, sedangkan semua yang kuinginkan pada Ichi-Chan adalah apa yang kuinginkan untuk suamiku kelak.

Ichi-Chan
Maafkan aku tidak sangup mengatakan Sayonara, karena kutahu kita tidak akan pernah bertemu lagi. Aku tidak mau mengantarmu ke bandara, karena kutahu kau tidak akan kembali lagi untukku. Biarlah semua yang ada dalam cinta kita menjadi kenangan buat hidup kita. Yang pasti, sepanjang hidupku, kau adalah pria yang selalu ada di hatiku. Kuharap, aku pun begitu di dalam hatimu.

Ja mata, Ichi-Chan
Salam

Haruka Mosii

Ichiro menghela napasnya, seraya tangannya melipat surat dari Haruka. “Selamat tinggal, Haru-Chan.” Sementara, ketika pesawat sudah mulai lepas landas, ada sepotong hati yang ikut terbang mengikuti perginya hati yang lain yang ada di pesawat itu. Di kamarnya, Haruka duduk bersimpuh memeluk bantal. Air matanya sudah menutupi pelupuk matanya.
“Selamat jalan, Ichi-Chan. Aishiteru.” Haruka tahu, saat ini hatinya mengikuti hati Ichiro. Dan dia tahu, bahwa semua yang sudah dia impikan, tidak bsia terwujud.
“Kau adalah cintaku.”

***The End***

2 Comments:

Post a Comment

<< Home

 
[ Background by www.Soup-Faerie.Com ]