Jepang Maniac

Hai!!Para Maniac Jepang!!Di sinilah tempat untuk melakukaann apaa....aaja....asalkan itu berhubungan dengan Jepang!!!Jadi,tunggu apalagi para maniac???!!!! Buruan gabung!!O tanoshini kudasaii!!!!Ja neeee!!!!

Thursday, November 18, 2004

Pemahaman Budaya Jepang

Dikemukakan Mizuno bahwa masyarakat Jepang merupakan sebuah komunitas orang-orang yang lebih mengedepankan kepercayaan tanpa banyak bertanya atau curiga terhadap orang lain. Sebagai ilustrasi diberikan contoh sebagai berikut. Orang Jepang dididik pada sebuah ajaran yang menekankan bahwa mencurigai orang lain itu tidak baik. Tidak boleh berprasangka buruk sebelum seseorang itu terbukti bersalah bersalah).

Ketika memasukan suatu makanan ke dalam kulkas kemudian makanan itu diberi label nama si empunya, atau mengunci kamar (padahal itu merupakan fasilitas umum) misalnya, akan menciptakan hubungan yang kurang harmonis bagi orang-orang yang tinggal bersama. Mengapa demikian? Sebab akan menimbulkan kesan bahwa orang itu seolah-olah sudah tidak mempercayainya lagi kepada orang yang tinggal serumah itu. Orang Jepang sangat menghormati kepercayaan. Oleh sebab itu, sangat diperhatikan sekali ketika mereka berkomunikasi atau bergaul dengan orang lain; Mizuno mengilustrasikan dalam bidang bisnis.

Apabila si pembeli merasa puas dengan menampakkan senyum misalnya, maka dalam diri para pebisnis itu akan lahir kepercayaan diri dan mereka akan merasa yakin bahwa kualitas barang dan harganya menduduki posisi yang berimbang. Artinya mahalnya harga diimbangi dengan kualitas yang memadai. Dengan demikian, secara alami, orang Jepang akan menjual barang-barang itu dengan percaya diri. Orang Jepang tidak akan menjual barang yang cacat, atau yang berkualitas jelek, apalagi mempunyai pikiran: "biarkan saja barang yang dijual itu berkualitas jelek, toh pembelinya juga orang lain atau orang selintas". Apabila konsep berpikir seperti itu berkembang di kalangan para pelaku bisnis, maka akan menimbulkan nilai kepercayaan terhadap barang dagangan itu menjadi hilang.

Alhasil, barang-barang yang diproduksi itu menjadi tidak laku. Selanjutnya, apabila kuantitas kerja semakin banyak, maka konvensasinya mereka bekerja sampai larut malam. Apabila pemikiran itu dibalik yaitu dari sisi para pembeli misalnya, umunya para pembeli itu mengharapkan bisa berbelanja dengan rasa aman dan barang yang dibelinya itu bagus. Seandainya pada barang yang dijual itu terdapat masalah (misalnya: cacat) bisa dikembalikan lagi, dan ini merupakan salah satu layanan untuk menciptakan kepercayaan pembeli, dan tentunya supaya pembeli merasa puas. Jika barang itu harganya mahal, bisa juga dibeli dengan dicicil.

Dalam situasi bergaul diperlukan saling percaya. Apabila dalam sebuah janji ada orang yang tidak menepatinya, maka secara otomatis orang Jepang akan menvonis "pembohong" atau "penghianat". Sungguh mengerikan !!!. Dalam komunitas sebuah masyarakat yang mengedepankan rasa saling percaya seperti Jepang, yang dinilainya itu adalah efesiensi, pertimbangan perasaan (nilai emosional), dan akhirnya akan melahirkan manusia-manusia yang mampu bekerja dengan baik. Dampak positifnya adalah penghasilan setiap individu akan meningkat dan tentunya langsung ataupun tidak langsung sangat berkaitan dengan perkembangan perekonomian Jepang secara menyeluruh.

Apabila ada orang yang bersikap 'egois'; atau 'mau menang sendiri', maka mereka itu akan kesulitan dalam hidupnya. Prinsip orang Jepang bahwa setiap individu itu adalah gigi-gigi dalam komunitas bermasyarakat sehingga tidak bisa berpikiran hanya untuk diri sendiri semata. Dampak positif lainnya yaitu akan mempermudah rencana-rencana selanjutnya, dan tentunya kecenderungan sukses itu besar asalkan kita mau berusaha. Dengan kata lain, setiap program yang sudah diirencanakan akan berjalan dengan lancar; Misalnya, kalau ada lima keperluan, maka kelima keperluan itu sudah yakin akan bisa diselesaikan. Memang, kebiasaan masyarakat Jepang yang sudah dikemukakan di atas, belum tentu dikatakan baik. Bisa juga kita berpikir terbalik. Mungkin saja bernilai positif dan mungkin juga bernilai negatif.

Selanjutnya, dikemukakan pula bahwa dampak negatif akibat melimpahnya kekayaan di Jepang, yang tentunya keberhasilan ini merupakan jerih payah dari dulu hingga saat ini, dan juga menyebabkan Jepang serba praktis itu, di sisi lain ada aspek-aspek yang semakin menghilang. Antara lain komunikasi antar orang menjadi tidak kondusif, hubungan antar tetangga menjadi renggang, dll. Jika kita memasuki sebuah supermarket, kita bisa berbelanja dengan tidak perlu berkomunikasi verbal sedikitpun. Sudah lancar saling mengirim barang dan bisa sampai kapan saja siang atau pun malam. Di satu pihak menjadi serba praktis dan efisien, namun di pihak lain komunikasi antar manusia menjadi menipis, atau kalau tidak dikatakan hilang. Apalagi di kota-kota besar mengakibatkan hubungan dengan tetangga itu hampir tidak ada. Banyak orang Jepang yang hidup menyendiri, banyak orang yang dilanda penyakit hati, tidak bisa bersabar, dan yang paling mengerikan adalah mudahnya orang marah sehingga sering terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti kejadian beberapa waktu yang lalu yaitu terjadi pembunuhan kepada sesama teman.

Mizuno merasa iri akan kehidupan di Indonesia. Orang-orangnya bisa hidup tenang, tidak tergesa-gesa, kemudian komunitas bermasyarakat umumnya masih berpijak pada konsep gotong royong. Menurutnya, tradisi gotong royong ini merupakan nilai dasar masyarakat Indonesia, dan masih berdenyutnya nilai-nilai yang lebih mementingkan keluarga. Oleh sebab itu, ia berpendapat bahwa banyak yang harus dipelajari dan dicermati oleh orang Jepang dari Indonesia. Sengetahuannya, masyarakat Indonesia menganggap bahwa keluarga itu penting, kesadaran saling tolong-menolong terutama hubungan antara anak dan orangtua, hubungan manusia yang sangat baik, tercerminnya sikap-sikap positif terhadap setiap kejadian, terjadi rekonstruksi jiwa yang baik, dan hampir di setiap sektor kerja, yang dominan masih memberdayakan tenaga orang.

Secara lahiriah (materil), Jepang sudah kaya, namun sangat miskin faktor batiniah. Inilah refleksi Jepang dewasa ini. Menurur dia, yang paling penting adalah meskipun kemajuan zaman terus menerpa dengan pusparagam yang cukup dilematis dan mungkin kontradiktif, namun sifat-sifat seperti menikmati suatu keindahan, tersentuhnya perasaan hati orang-orang dalam sebuah komunitas bermasyarakat, yaitu jika bersedih ia mencucurkan air mata, jika bergembira ia tertawa, dll., itu semua merupakan kekayaan yang hakiki, dan itulah kehidupan yang sebenarnya sebagai manusia. Istilah di kita ada slogan "memanusiakan manusia". Artinya, bisa hidup layak sebagaimana mestinya seorang manusia. Menurut Mizuno, tanpa dukungan nilai-nilai seperti itu, menurutnya bukan manusia sebab pada hakekatnya hidup itu perlu didukung oleh kenyamanan dan ketentraman hati.

Seperti dikemukakan di atas, salah seorang pemakalah adalah Mr.Mizuno Toshio (Anggota DPRD Shizuoka Jepang). Ybs. Menginformasikan beberapa hal antara lain masalah shoko koreika, masalah emansipasi pria wanita dan dampaknya terhadap regenerisasi, masalah penciutan beberapa daerah di Jepang (merger), masalah budaya tradisional (dalam hal ini judo) dan filsafatnya, dan nilai sebuah kepercayaan bagi orang Jepang. Berikut ini adalah intisari informasi yang dimaksud.

1. Masalah shoko koreika. Yang dimaksud dengan istilah ini adalah fakta yang menunjukkan bahwa jumlah anak-anak di Jepang semakin berkurang, sedangkan orang-orang yang lanjut usia (manula) semakin bertambah. Hal ini disebabkan kaum hawa di Jepang semakin maju dan mampu menduduki jabatan penting di masyarakat. Akibatnya banyak di antara mereka yang tidak mau melahirkan anak lagi. Jumlah perempuan yang melahirkan anak kemudian mereka membesarkannya di Jepang pada tahun 2003 rata-rata hanya 1,9 orang. Artinya, setiap perempuan hanya melahirkan anaknya antara 1 s.d. 2 orang. Masalah sosial lainnya saat ini adalah penanganan para manula. Angka kematian di Jepang bagi pria rata-rata 78 tahun, dan bagi perempuan 81,5 tahun. Dewasa ini, orang-orang Jepang termasuk orang-orang yang berumur panjang di dunia. Upaya untuk menolong para manula selama hidupnya, tentunya diperlukan biaya dan layanan yang memadai antara lain biaya pengobatan dan layanan kesejahteraan lainnya. Hal ini, menjadi tanggungan orang-orang yang berusia produktif. Tahun 2000 setiap satu orang manula disokong oleh 4 orang pegawai produktif, sedangkan tahun 2025 diperkirakan setiap satu orang manula harus disokong oleh 2 orang. Itulah masalah Jepang yang sedang dihadapi dewasa ini.

2. Selanjutnya masalah keturunan. Dikemukakan oleh Mizuno bahwa setiap satu keluarga hanya melahirkan anak 1 atau 2 orang. Banyak para orangtua yang terlalu memanjakan anaknya. Akibatnya banyak anak-anak yang tidak bisa mandiri. Di dunia pendidikan sering timbul masalah sosial antara lain banyak anak yang tidak mau pergi ke sekolah, mengejek teman-temannya, dan tawuran antar sekolah. Masalah sosial yang terjadi akhir-akhir ini adalah anak perempuan berusia 12 tahun mengiris teman sekelasnya dengan pisau cuter, kemudian ia menyaksikan temannya itu sekarat hingga mati. (Pen: "menikmati orang sekarat"?). Selain itu, orang-orang yang bunuh diri menduduki rangking yang paling tinggi pada tahun 2003, yaitu mencapai 34.000 orang. Alasannya adalah kondisi masyarakat yang kurang kondusif seperti masalah ekonomi, namun yang paling menonjol adalah bunuh diri yang dilakukan oleh para manula.



Budaya Jepang.

Menurutnya, budaya Jepang yang bersifat tradisional antara lain judo, kendo, karatedo, chado, dan taekondo. Ini merupakan sebagian budaya Jepang. Budaya Tradisional tersebut dibentuk dengan kanji 'michi' atau 'do'. Kanji ini menunjukkan arti harfiah jalan, sedangkan maknanya adalah perlu berbuat dengan sungguh-sungguh dan melalui jalan yang lurus. Dalam konsep bushido, sangat ditekankan pada tiga hal yaitu kokoro (hati), gi (teknik), dan karada (kekuatan fisik). (maksudnya: sehat jasmani, sehat rohani, dan didukung oleh penguasaan strategi yang mantap). Artinya, melalui sehat jasmani harus memantapkan hati yang jernih (jiwa) dan diiringi dengan peningkatan diri dalam hal mengasah keterampilan atau teknik-teknik yang optimal dan baik. Dalam hal ini, bukan hanya terbatas pada penguasaan teknik-teknik tertentu dengan didukung oleh kekuatan fisik semata, namun yang lebih penting adalah melakukan latihan-latihan diri agar ketiga unsur tersebut (kokoro, gi, dan karada) menyatu dalam diri.

Orang Jepang sangat menghormati kesantunan. Misalnya jika kita mengambil contoh dalam permainan judo, sangat ditekankan pada kesantunan dengan mengambil slogan "diawali dengan sikap hormat, dan diakhiri pula dengan sikap hormat". Dalam bahasa Jepang dikatakan 'Rei ni hajimari, rei ni owaru'. Demikian pula dalam masyarakat Jepang pada umumnya, terutama ketika mereka bertemu pertama kali. Dalam pikiran orang Jepang akan "mengkristal"sebuah kesan itu baik atau buruk berdasarkan pengamatan awal atau perjumpaan pertama kali ketika orang yang dijumpainya itu melakukan salam (aisatsu). Dalam kata aisatsu, diawali dengan sebuah kanji 'ai'. Secara harfiah kanji ini berarti 'membuka', sedangkan kanji 'satsu' bermakna "mengejar atau mengikuti". Dengan demikian, makna dari kata aisatsu adalah membuka hati diri sendiri dan dilanjutkan dengan mengejar perasaan lawan bicara. Demikian pentingkan aisatsu ini sehingga pada pendidikan formal seperti di SD, SMP, dll. sangat menduduki posisi yang penting. Salam ini sangat diperhatikan dalam dunia pendidikan sebab merupakan cikal bakal atau awal komunikasi antara orang yang satu dengan yang lainnya.

Berikutnya adalah konsep manusia menurut orang Jepang. Menurut pemikiran orang Jepang, kata yang dimaksud dengan ningen itu dibentuk oleh dua kanji yaitu 'nin' (orang) dan 'gen' (antara). Kata gen menunjukkan seseorang yang berada di antara orang banyak. Yang dimaksud "di antara" di sini adalah hati. Artinya, orang Jepang berpendapat bahwa hidup itu pada hakekatnya berdasarkan pada saling tolong menolong dan berdasarkan pula pada dukungan di antara orang-orang yang berada di sekeliling kita. Ini merupakan refleksi diri orang Jepang untuk menunjukkan rasa terima kasih yang lahir dari hati nurani. Dalam wujud fisik misalnya, setiap tahun ada dua kebiasaan orang Jepang yang sudah memasyarakat dan hampir dilakukan oleh semuanya, yaitu pada musim panas (bulan Juli), dan musim dingin (Desember). Mereka saling mengirim sesuatu kepada orang-orang yang dianggap berjasa sebagai ucapan terima kasihnya (mirip dengan budaya Sunda: mawakeun ketika hari raya idhul fitri).

Mizuno menjelaskan sebuah filsafat yang terkandung di dalam upacara minum teh (chado) ada istilah ichigo ichie. Pepatah ini mengandung arti bahwa apabila kita bertemu atau berkenalan dengan orang lain, maka perkenalan itu harus dijunjung . Oleh sebab itu, sejak pertemuan itu terjadi perlu dijalin hubungan yang baik selama hidup ini.

1 Comments:

  • At 10:18 PM, Blogger inii iduup guahh said…

    moshi-moshi..

    o genki desu ka?
    watashiwa erni desu. watashi no gosushing wa ciamis desu.

    o nemae wa?

    haikk.

    hallo ka,,
    saya sangat tertarik untuk mendalami bahasa jepang. saya sangat ingin mengetahui bannnyaaak sekali kosakata-kosakata dalm bhs.jepang.

    douzoyoirishiku onegashimasu...

     

Post a Comment

<< Home

 
[ Background by www.Soup-Faerie.Com ]